Dan Brown & The Da Vinci Code

oleh : Haris Priyatna

Tampaknya novel yang mengandung isu agama selalu mengundang kontroversi .  Tidak terkecuali novel The Da Vinci Code.  Mungkin karena kontroversial, novel keempat karya Dan Brown ini menjadi novel terlaris tahun 2003 dengan total penjualan sebanyak 5,7 juat eksemplar.  Ini memecahkan rekor penjualan selama 10 tahun yang dipegang oleh The Bridges Over Madison County (James Waller) yang pada masa itu terjual sebanyak 4,3 juta eksemplar.

Sebenarnya sejak diterbitkan pada Maret 2003, penerbit Doubleday sudah bisa mencium sukses yang akan diraih The Da Vinci Code mengingat bahwa hanya dalam dua hari, edisi sampul keras novel ini terjual lebih banyak daripada jumlah seluruh novel sebelumnya.  Brown berhasil mengungguli penjualan novel-novel tahun 2003 karya penulis-penulis top dunia lainnya seperti Grisham, Clancy, Patterson, Sparks, Karon, King, Steel, Cussler, Tim LaHaye, dan Jerry B Jenkins.

Novel ini diawali dengan kisah pembunuhan seorang kurator seni, Jacques Sauniere di museum Louvre, Paris.  Beberapa saat sebelum kematiannya, Sauniere berhasil meninggalkan beberapa petunjuk di tempat kejadian yang hanya cucu perempuannya, seorang kriptografer bernama Sophie Neveu dan seorang ahli simbol yang sangat ternama, Robert Langdon, yang dapat memecahkan petunjuk-petunjuk tersebut.  Sophie dan Langdon kemudian menjadi buronan polisi sekaligus menjadi detektif yang berusaha memecahkan pesan-pesan rahasia yang ditinggalkan Sauniere–yang terkait dengan misteri yang melingkupi lukisan-lukisan Leonardo Da Vinci.

Selain di Prancis, setting cerita juga menelusuri Inggris dan sejarah yang melahirkan pesan-pesan tersebut.  Ia menguak konspirasi yang sudah berlangsung 200 tahun yang terkait dengan sejarah agama Kristen, Yesus dan sebuah paguyuban rahasia (secret society) di masa lalu yang melibatkan para tokoh terkenal seperti Leonardo Da Vinci, Isaac Newton dan Victor Hugo.  Brown berhasil memadukan sebuh thriller dengan tafsiran yang mengagumkan tentang sejarah Barat sehingga novel ini tidak hanya menarik hati pembaca suspense tetapi juga para peminat seni dan agama.

Begitu heboh dan gencar perbincangan serta resensi novel ini di media AS, sehingga seorang pemilik toko buku di Lexington, Kentucky memanfaatkannya dengan mengadakan Forum Makan Malam The Da Vinci Code.  Pembeli buku di tokonya ditawarkan kesempatan untuk mendiskusikan buku ini dalam seuah acara makan malam bertarif $30.  Forum Makan Malam ini menghadirkan seorang tamu kehormatan yang adalah doktor sejarah seni Renaissans sebagai pemicu awal diskusi dan penghangat suasana.  Menu makan malammya pun disesuaikan dengan tema buku yaitu bergaya Renaissans.

Sukses forum ini buka hanya meningkatkan penjualan The Da Vinci Code dan novel-novel Brown yang lain, namun juga buku-buku dengan tema terkait.  Sebulan sebelum diadakannya forum mkan malam ini, Turnbull mencacat bahwa tokonya hanya berhadil menjual 10 eksemplar buku yang terkait dengan The Da Vinci Code.  Namun pada bulan Maret, jumlah ini meningkat menjadi 120, dipimpin oleh buku Lewis Purdue, The Da Vinci Legacy, yang diterbitkan awal Januari lalu.  Forum makan malam ini pun kemudian berlangsung beberapa kali, dengan total hasil penjualan tiket mencapai $3.000.

Ketertarikan Brown pada Leonardo Da Vinci dan misteri yang tersembunyi di dalam lukisan-lukisannya, berawal ketika dia sedang belajar sejarah seni di Universitas Seville di Spanyol.  Bertahun-tahun kemudian, ketika dia melakukan riset untuk novel ketiganya, Angles & Demons, dan arsip-arsip rahasia Vatican, dia berhadapan dengan enigma Da Vinci lagi.  Sejak itulah secara khusus dia tertarik pada lukisan Da Vinci.  Dalam sebuah wawancara, Brown mengatakan bahwa diperlukan riset selama setahun sebelum dia mulai menulis novel The Da Vinci Code.

Secara merendah Brown mengakui bahwa dia memilih topik yang kontroversial ini untuk alasan pribadi: “terutama sebagai eskplorasi atas agama saya sendiri dan gagasan saya tentang agama.  Saya yakin bahwa satu alasan mengapa buku ini menjadi kontroversial adalah bahwa agama adalah sesuatu hal yang sangat sulit untuk didiskusikan dalam istilah-istilah kuantitatif.  Saya menganggap diri saya sebagai siswa dari banyak agama.  Niat tulus saya adalah bahwa The Da Vinci Code, selain menghibur pembaca juga menjadi pintu pembuka bagi pembaca untuk mengawali eksplorasi mereka sendiri,” demikian penuturannya.

Penggemar John Steinbeck Robert Lundlum dan Shakespeare ini memiliki kebiasaan menulis pada waktu pukul 4 subuh.  “Inilah waktu produktif saya,” alasannya.  Dia menempatkan jam pasir di mejanya dan setiap satu jam, dia beristirahat dengan melakukan push-up, sit-up dan beberapa perengangan. “Ini membantu agar peredaran darah (dan gagasan) saya terus mengalir,”  katanya.

 Selain itu, Brown juga kerap berdiri dengan posisi kepada di bawah (gravity boots).  Menurutnya berdiri dengan posisi terbalik membantunya menyelesaikan tantangan karena menggeser seluruh perspektifnya. Beberapa orang menganggapnya aneh karena kebiasaan-kebiasaan ini ketika sedang menulis novel.  Namun, barangkali, karena keunikan riutal inilah kemudian lahir novel-novel yang kontroversial dan sekaligus menjadi bestseller dunia.  Bagaimana menurut anda?

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *