Hari kedua ramadhan 1442 H

Sesungguhnya dien (agama yang benar) di sisi Allah adalah Islam” (Ali Imran : 19)

Dalam bahasa Arab, dien berasal dari dana (tunduk) – yadinu – dinan (tunduk) yang berarti tatanan atau tatacara hidup Islam. Ada pula yang memberi makna : perilaku, perhitungan, kekuasaan, ketaatan. At Tabari menjelaskan bahwa kata dien bermakna ketaatan dan ketundukan.

Dien yang memiliki banyak arti, sesungguhnya juga untuk tingkatan. Beragama memiliki tingkatan sebagaimana juga dalam masalah kepintaran, kepandaian. Tingkatan dalam dien antara lain :

Pertama, Islam. Islam berasal dari kata aslama – yuslimu- islaaman, yang artinya : taat, tunduk, patuh, pasrah, berserah diri kepada Allah swt. Aslama artinya masuk dalam agama Islam , yang mengandung maksud pasrah kepada Allah, bertauhid dan tunduk kepadaNya.

Berislam itu tunduk. Ini memiliki makna bahwa setiap Muslim harus tunduk, patuh kepada perintah Allah. Berislam itu berserah diri. Artinya bahwa setiap Muslim tidak boleh setengah-setengah. Karena dalam Islam melibatkan jiwa dan raga. Orang Islam tidak boleh menerima jiwanya saja atau raganya saja. Harus keduanya. Utuh. Berislam itu menyelamatkan. Maknanya bahwa setiap Muslim akan selamat, sebab dalam hidupnya telah menyelamatkan diri dari perbuatan jahat.

Kedua, Iman. Iman berasal dari kata aamana dan yukminu, artinya percaya atau membenarkan. Orang yang beriman berarti membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan amal perbuatan.

Ketika seseorang mengaku beriman kepada Allah, ia harus membuktikan dalam kehidupan riil. Ia harus meyakini bahwa Allah saja sebagai pelindung. Ia juga harus mengikat dirinya dengan perkataan yang baik. Tidak menyakiti keluarga, tetangga ataupun teman. Semua itu harus dibuktikan dengan kehidupan sehari-hari.

Ketiga, Ihsan. Ihsan berasal dari kata Ahsana – Yuhsinu – Ihsanan, artinya berbuat baik atau seseorang yang dalam beribadah kepada Allah, seakan-akan melihat-Nya (dengan matahati) jika tidak bisa melihatnya, maka ia yakin bahwa Allah melihat-Nya.

Ihsan memiliki dua sisi, yaitu memberikan kebaikan kepada orang lain dan memperbaiki perbuatan dengan menyempurnakannya. Muslim yang baik adalah orang yang senantiasa melakukan amalan-amalan yang terbaik, menurut kehendak Allah. Dalam situasi apapun dan kondisi apapun.

Rasulullah saw, memberi tauladan yang sangat elok. Ketika beliau dicaci maki dan dimusuhi oleh kaum kafir Quraisy, beliau sedikitpun tidak memiliki rasa dendam. Bahkan andaikata ada kesempatan berbuat baik kepada yang menghina, Rasulullah saw akan berusaha melakukannya.

Dalam riwayat yang lain, ada seorang kafir selalu meludahi Rasulullah saw tatkala melewati di depan rumahnya. Kejadian ini sering dialami Rasulullah saw ketika hendak menuju Ka’bah. Namun suatu saat, ketika melewati rumah tersebut, tidak ada ludah yang meluncur. Rasulullah saw diberitahu, bahwa yang meludahi sekarang orangnya sedang sakit. Seketika itu Rasulullah saw menjenguk orang tersebut. Semula orang tersebut sangat membenci, seketika menjadi sangat cinta kepada Rasulullah saw.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *