DSCN1164

Ekstra kurikuler adalah kegiatan kesiswaan yang dilakukan di luar jam belajar. Artinya bahwa kegiatan ini memang dilakukan oleh beberapa siswa dengan memilih salah satu kesukaan sesuai bakat dan minat mereka. Waktu yang digunakan sebenarnya bebas namun tidak mengganggu proses belajar.
Kegiatan siswa ini dilindungi oleh undang-undang dengan diterbitkannya permendikbud no62 tahun 2014. Aturan legalitas ini mengamanatkan secara penuh kepada satuan pendidikan atau sekolah untuk melaksanakan kegiatan siswa diluar proses belajar.

Ekstra kurikuler adalah bentuk pendampingan dari kurikuler. Disamping ekstra kurikuler masih ada lagi kegiatan berupa intra kurikuler dan ko kirikuler. Batasan ketiganya secara teknis tidak begitu jelas, karena ketiganya merupakan kegiatan kesiswaan.

Sifat ekstra kurikuler ada 2 macam yaitu wajib dan sukarela. Pilihan wajib sudah ditentukan oleh negara yaitu pramuka, atau boleh nama lain tetapi memiliki kegiatan yang sejenis. Pramuka sebenarnya merupakan gabungan dari beberapa kepanduan dengan dalih u tuk persatuan bangsa dan negara. Sebelum pramuka lahir, kegiatan kepemudaan diisi dengan kepanduan sebagai ujud untuk mengasah ketrampilan bela negara. Namun, dalam realita, kepanduan yang heterogen itu masih kental dengan pesan siapa yang mendirikan. Bahkan dalam beberapa kasus disalah gunakan sebagai alat untuk menyebarkan misi tertentu. Untuk itu, kegiatan yang dipandang cocok untuk aktivitas siswa dalam rangka untuk bela negara adalah dengan kepramukaan atau kepanduan.
Kegiatan kesiswaan bukan hanya yang bersifat wajib. Ada pilihan yang bisa diikuti oleh siswa sesuai dengan bakat dan minat. Namun jumlahnya sangat terbatas. Ini merujuk juga dengan terbatasnya sarana dan pembimbingnya.
Tujuan dilaksanakannnya kegiatan ekstra kurikuler adalah mengembangkan potensi, bakat, minat, dan kemampuan. Sehingga satuan pendidikan dapat mengukur dirinya sampai batas mana kekuatan yang bisa dilakukan untuk menyelenggarakan ekstra kurikuler.
Dilama Ekstra Kurikuler
Bergulirnya waktu, selalu diikuti dengan pengembangan potensi yang dimiliki oleh manusia. Berbagai ragam aktivitas manusia selalu berkembang dan selalu menunjukkan peningkatan. Sebagai contoh. Badminton sekarang berbeda dengan 10 atau 20 tahun yang lalu. Secara teknis, pemain telah bisa menunjukkan permainan yang tertinggi. Skillnya semakin beragam. Seninya juga makin  indah.
Korelasinya, semakin banyak orang tua yang sadar bahwa untuk menjadi atlit diperlukan persiapan yang sedini mungkin. Maka berbondong-bondonglah mereka untuk berlatih  secara profesional dengan cara sekolah atlit. Semakin banyak lembaga yang mendirikan kursus olah raga. Peserta dilatih langsung oleh  pelatih yang sudah bisa menunjukkan prestasi. Konskwensinya, orang tua rela untuk merogoh uang lebih banyak, karena mereka telaj bertekad untuk memasukkan ke lembaga yang lebih profesional.
Dari logika di atas, mampukah sekolah bersaing dengan lembaga profesional penyelenggara pengembang bakat profesional? Ekstra kurikuler, akan kembali pada takdirnya bahwa kegiatan ini hanyalah sebagai pendamping dari proses belajar di kelas. Ia akan takzim menerima nasib sebagai kegiatan yang ala kadarnya. Kalau ada sekolah unggul dalam bidang ekstra kurikuler tertentu, dapat dipastikan bahwa cara penanganan telah memakai sistem profesional.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *