Empat Tipe Kemarahan (1)

Ramadhan tahun 1441 H hari kesepuluh

Bagaimana cara mengetahui kualitas kepemimpinan kita sendiri? Pertanyaan ini adalah termasuk yang paling sering saya dapatkan dalam diskusi mengenai kepemimpinan di berbagai kesempatan. Oleh karena ini pertanyaan praktis, biasanya saya menjawabnya secara praktis saja. Untuk bisa mengukur kualitas kepemimpinan Anda tak perlu teori yang susah-susah. Lihat saja apa yang selalu Anda lakukan bila Anda sedang marah!

Mengapa demikian? Inti kepemimpinan adalah pengendalian diri. Dalam kungfu dikatakan bahwa rahasia menguasai orang lain adalah menguasai diri sendiri. Penguasaan diri juga merupakan rahasia kemenangan para Musashi dalam memainkan pedangnya. Sekembalinya dari perang dahsyat, Nabi Muhammad mengatakan, “Kita baru kembali dari peperangan kecil menuju peperangan yang jauh lebih besar, yaitu perang melawan diri sendiri.” Seorang filsuf, David O. Mackay mengatakan, “The Greatest battles of life is fought daily in the silent chamber of soul.” Peperangan paling dahsyat dalam kehidupan kita adalah pertarungan setiap hari dalam relung-relung sunyi jiwa kita.

Masalahnya, ujian bagi pengendalian diri tidak akan kita dapatkan dalam situasi yang tenang dan damai. Dalam situasi yang tenang semua orang pasti dapat mengendalikan diri. Namun tidak demikian halnya dalam situasi-situasi yang sulit dan melibatkan emosi. Berbeda dengan emosi-emosi lainnya seperti sedih, kecewa, dan gelisah, marah merupakan emosi yang paling sulit dikendalikan.

Kemarahan selalu mengandung letupan-letupan emosi dan “gairah” tersendiri untuk melampiaskannya. Marah adalah emosi yang aktif, yang selalu mendorong orang untuk melakukan tindakan. Ini berbeda dengan emosi negatif lainnya yang cenderung pasif. Kemarahan yang memuncak bisa menjadi sumber malapetaka, karena saat emosi bermain, pikiran kita tak lagi berfungsi dengan baik. Kesadaran kita pun akan jauh menurun. Ini tentunya kondisi yang amat berbahaya karena kita bisa saja melakukan sesuatu yang irasional yang akan amat kita sesali di kemudian hari.

Kemarahan yang memuncak amatlah berbahaya karena kita bisa kehilangan satu milik kita yang paling berharga, yaitu pilihan (choice).  Saat marah seakan-akan kita hanya punya satu pilihan yaitu membalas! Pilihan-pilihan lain seolah tertutup. Dan hasilnya hanya satu: Penyesalan yang tak berkesudahan. Kemarahan yang tak terkendali memang amat berbahaya. Di kantor, Anda dituduh korupsi dan diserang dengan berbagai cara sampai Anda marah. Lama-lama batas kesabaran Anda habis. Anda memaki-maki dan memukul orang tersebut. Dan, Anda langsung dipecat. Orang tak perlu tahu apakah Anda terbukti korupsi atau tidak. Yang penting faktanya: Anda memukul orang, dan itu melanggar peraturan di kantor. (bersambung)

Sumber tulisan : Arvan Pradiansyah dalam Life is Beautiful.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *