Event Organizer adalah pilihan Profesi

Siapapun, bila bertemu dengan kolega : mantaan atasan, juragan, bawahan, teman sepermainan, teman sekolah atau kuliah, pastilah merasa senang. Terlebih lagi bila kolega itu adalah teman yang akrab, rekan yang selalu sehati. Kegembiraan yang tak bisa diganti dengan materi apapun dan seberapapun.

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan mantan murid yang sekarang telah dewasa tentunya. Sekarang saya anggap sebagai teman. Teman diskusi, teman berbagi, teman saling mengisi tugas. Mereka sekarang menekuni dunia EO (event organizer), sebuah profesi yang makin diminati dan mendapat tempat di hati masyarakat. Boleh dikatakan hampir setiap kegiatan selalu ditangani oleh EO.

Tanda manusia modern adalah: orang tersebut semakin menekuni profesinya. Ia tidak akan bergeming dengan bidang diluar keahliannya. Masyarakat kadangkala tidak sempat untuk memikirkan acara yang terbaik untuk ulang tahun anaknya.  Urusan terlalu ribet katanya. Mereka lebih mempercayakan EO untuk menangani ultah anaknya.

Demikian pula pernikahan, konferensi, musyawarah adalah kegiatan yang biasa digarap oleh EO, manakala orang tidak disibukkan pada hal-hal teknis. EO saat ini menjadi sebuah pilihan profesi yang layak untuk dihargai. Karena mereka bekerja sebagaimana orang lain bekerja menjalani sebuah profesi untuk menggantungkan hidup.

Akan halnya mantan siswaku. Saya secara kebetulan bertemu dengan 3 mantan anak buahku hampir bersamaan waktunya. Yang pertama bernama Rofiq (nama panggilan dan sekarang sudah meninggal dunia). Ia berkonsentrasi menggarap seni pertunjukan khusus band. Tak sekedar menyelenggarakan event hingar-bingar anak band di atas panggung, namun yang lebih berkesan adalah mengangkat sebuah grup band sampai menuju dapur rekaman.  

Kedua, namanya Yayi, juga nama panggilan. Ia menekuni di bidang pameran, lounching sebuah produk. Menyelenggarakan pameran di berbagai kota, adalah makanan hariannya. Strategi yang ia terapkan dengan gangnya adalah bagaimana supaya produk yang diluncurkan selalu diingat kepala konsumen. Ada trik-trik yang ia poles agar poduk terjual secara optimal.

Ketiga, Suntih rupawan, yang ini nama lengkapnya. Ia lebih senang berkecimpung dalam perhelatan pesta pernikahan. Ia suka perfect, gemar detail. Bagi pembaca yang biasa menjadi panitia pernikahan hanya satu tujuan yaitu kesempurnaan. Acara pernikahan adalah menata hati. Itu sebabnya bagi yang punya hajat, maka martabat, status sosial dipertaruhkan. Sehingga ia akan rela merogoh saku lebih dalam demi kemegahan upacara pengantin.

Dari obrolan dengan ketiga rekan itu ada beberapa yang dapat saya serap terkait dengan profesiku. Pertama, tidak mau diam dan banyak omong. Teringat masa lalu bahwa ketiganya memiliki ciri-ciri seperti itu. Tidak mau diam. Selalu usil. Bergeraknya adalah gerak yang kreatif yang tidak dimiliki oleh siswa yang lain. Ngomongnya banyak, cenderung humor, berani berpendapat lain, bahkan kadang berdebat dengan guru. Kedua, suka hal-hal yang detail. Walaupun saya bukan guru menggambar, namun saya melihat sisi lain dari ketiga muridku dari hasil pelajaran menggambar. Secara teknis bisa jadi kalah dengan siswa yang lain. Namun dari segi detail dan perpaduan warna sudah menunjukkan bahwa ketiganya ingin tampil perfect.

Ketiga, manajemen keuangan. Saya tidak tahu persis, berapa uang saku yang mereka dapatkan. Orangtuanya memberi uang saku tiap hari, tiap minggu atau bahkan tiap bulan sekali, sayapun tidak tahu. Namun kalau dicermati dari cara mereka membelanjakan, sudah nampak bahwa mereka mampu mengatur sirkulasi uang sesuai prioritas. 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *