Hari ketigabelas ramadhan 1442 H

Kepunyaan Allah yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan kepada-Nya dikembalikan segala urusan.” (QS Ali Imran : 109)

Hubungan antar sesama manusia yang berkaitan dengan harta diatur dalam al Qur’an dan diperinci dalam fiqih. Karena kecenderungan manusia pada harta itu begitu besar dan sering menimbulkan sengketa. Kalau tidak diatur akan terjadi ketidakstabilan dalam pergaulan hidup.

Hubungan antar manusia sebenarnya terlahir dari hubungan manusia dengan Allah. Hablun min Allah, berkembang menjadi Hablun min al nas. Allah mengatur hubungan antar manusia hanya sebatas pada prinsip-prinsip secara garis besar. Aturan yang lebih khusus adalah tugas Nabi untuk menjelaskan. Salah satu yang mengatur hubungan antar manusia yaitu tentang harta.

Harta dimaknai sesuatu yang dapat dimiliki. Ia termasuk salah satu sendi kehidupan manusia di dunia. Karena tanpa harta (makanan) manusia tidak akan bertahan hidup. Oleh karenanya, Allah menyuruh kepada manusia untuk memperoleh harta. Harta yang diperoleh menjadi milik dan dimanfaatkan oleh manusia. Namun Allah memperingatkan agar jangan sampai merusak dan meniadakan harta.

Semua yang ada di bumi dan langit boleh dimiliki, kecuali atas seijin Allah. Prakteknya, Nabi menjelaskan bahwa harta yang diperoleh harus sesuai dengan aturan. Bila harta yang dimiliki sesuai dengan aturan, maka harta tersebut menjadi thayyibah.

Kepemilikan harta mempunyai karakteristik yang unik, yang sejalan dengan fitrah manusia. Kepemilikan harta menurut Islam berbeda dengan konsep kapitalisme maupun komunisme. Kebebasan dalam hak milik individu merupakan konsep dasar kapitalisme. Kepemilikan bersama adalah milik komunisme, yang diatur oleh negara.

Dalam Islam, kepemilikan harta memadukan antara kepemilikan sosial dan pribadi. Artinya bahwa didalam kepemilikan pribadi, ada untuk milik sosial. Islam tidak menghendaki adanya gap di masyarakat dengan perbedaan status ekonomi yang sangat mencolok. Ajaran Islam memberikan kebebasan untuk memiliki harta, namun dengan tetap memperhatikan keseimbangan.

Bila demikian siapa sebenarnya pemilik harta? Surat an Nur : 33 menjelaskan “…dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu…” Ayat ini tegas bahwa pemilik harta secara mutlak hanyalah Alla swt. Manusia hanya diberi sebagian dari karunia Allah.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *