Jum’at Berkah

Dan sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya), “Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur. (Ibrahim : 5)

Kita lahir bukan atas kehendak kita. Kita dilahirkan atas kehendak-Nya. Melalui kedua orangtua, kita dipelihara, dibimbing, dididik dengan penuh kasih sayang. Kehadiran kita pasti telah ditunggu dengan penuh harapan oleh kedua orangtua. Allah memberi karunia, berupa buah hati dengan berbagai macam wajah, warna kulit, corak dan karakter yang berbeda-beda.

Kelahiran adalah peristiwa yang selalu ditunggu. Disana ada harapan, ada impian. Hanya waktu saja yang dapat membuktikannya. Kelahiran seseorang, terkadang sudah dapat diramalkan. Seseorang yang akan membawa dampak yang cukup besar bagi kehidupan. Kelahiran Nabi Muhammad SAW juga telah diramalkan, bahkan oleh seorang pendeta, karena telah tertulis dalam kitab suci.

Kelahiran Nabi Muhammad SAW, menandakan tiga perubahan besar :  

Pertama, perubahan dari zaman kegelapan menjadi pencerahan. Kegelapan yang dimaksud adalah meniadakan sisi kemanusiaan. Sebagai contoh, membunuh bayi perempuan, mendewakan benda, ketergantungan terhadap alam dan lain-lain. Bukankah Rasulullah diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak?

Kedua, Kelahiran Rasulullah Muhammad SAW menandai perubahan dari lokal ke global. Datangnya Rasul sebagai tanda berakhirnya kenabian dan kerasulan. Peristiwa ini memiliki dampak, bahwa Nabi Muhammad adalah pembawa fajar yang mampu mempersatukan manusia. Semula bersuku-suku, berkelompok sesuai dengan rasnya masing-masing. Rasulullah datang untuk mempersatukan.  

Ketiga, Kelahiran Rasulullah menjadi simbol bahwa kepemimpinan itu adalah konsep. Bukan sosok perorangan. Kepemimpinan Rasulullah untuk segala macam ranah kehidupan. Kepemimpinan bangsa,  agama, komunitas, organisasi dan lain-lain, semestinya merujuk pada kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW. Umat manusia harus dapat mengatur diri sendiri, memimpin diri sendiri tanpa kehadiran nabi dan rasul. Artinya ketika Rasulullah selesai menyampaikan risalahnya, umat manusia telah mandiri untuk menentukan pilihannya.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *