Ibu Shalihah

Hari keenam ramadhan 1442 H

Anakku, bila engkau berjalan di atas kebatilan, maka berarti telah menceburkan diri jurang kebatilan, demikian juga orang yang bersamamu. Tapi, bila engkau berjalan di atas kebenaran, maka engkaulah sebaik-baik manusia. Karena itu, berjalanlah seperti apa yang telah ditunjukkan Allah kepadamu

Kata Asma’ binti Abu Bakar
Dijawab oleh Abdullah bin Zubair

Wahai ibu, aku khawatir musuh-musuhku mempunyai kemampuan yang menyamaiku, atau malah menandingi”

Dengan tegas ‘Asma mengatakan

Apakah anak domba akan merasa mendapatkan bahaya bila induknya telah tersembelih?”.

Suatu ketika, Abdullah bin Zubair melaksanakan ibadah haji. Mengetahui hal itu, al Hajjaj mengerahkan pasukannya untuk membinasakan rombongan Zubair. Serangan tersebut menimbulkan pertempuran yang hebat. Di saat Zubair terjepit, maka terjadilah dialog antara dia dengan ibunya. Dialog ini terdokumen hingga sekarang, dan merupakan bagian dari sejarah.

Al Hajjaj bin Yusuf adalah penguasa, politisi, dan menteri pertahanan dari khalifah Umayyah. Dia merupakan sosok kontroversi dan pelik. Terkenal sebagai seorang penguasa yang cerdas namun keras dan kejam.

Dialog antara seorang ibu dan anaknya di atas memperlihatkan betapa kedekatannya seorang ibu dengan sang anak. Seorang ibu yang memperlihatkan ketauladanan dan memberi motivasi kepada sang buah hati dalam menghadapi pasukan al Hajjaj.

Percakapan antara Ibu dengan buah hatinya, lebih tepat bila dipakai untuk pemberian motivasi dalam setiap perjuangan. Seorang ibu yang shalihah mampu melimpahkan jiwa kebaikan kepada anak-anaknya. Cahaya yang senantiasa terpancar dari seorang ibu tak mungkin akan redup meskipun terhalang tembok baja. Kerelaannya mampu membakar semangat anak-anaknya, sekalipun berjarak yang tak terbatas. Ibu adalah pembentuk manusia yang tidak mengenal patah arang meskipun, jiwa telah diujung tombak.

Ibu shalihah mampu menghiasi jiwa anak dengan kejernihan naluri, kebersihan ucapan, kesucian tangan, mengajarkan tatakrama, dan membentengi jiwa anaknya dari kerusakan moral. Seorang ibu harus sadar bahwa dirinya adalah panutan bagi anak-anak, baik dalam berbicara maupun bertingkah laku.

Masyarakat yang tenang dan tenteram, cermin ibu-ibu penghuni yang shalihah. Masyarakat yang mampu memberi cahaya kedamaian. Dari masyarakat kecil inilah sumber energi untuk menjadi negara yang sejahtera.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *