Instropeksi (Muhasabah)

Ramadhan tahun 1441 H hari kelima

Secara sederhana, Muhasabah berarti menghitung diri, memeriksa dan menimbang diri sendiri seberapa baik dan seberapa buruk di masa lalu dan apa yang telah diperbuat untuk hari esok. Muhasabah mengandaikan rasa tidak puas yang tak pernah berhenti terhadap kebaikan yang telah dibuat, dan instropeksi diri yang terus menerus atas kemungkinan kesalahan.

Menimbang kebaikan dan kesalahan penting bagi terciptanya kesadaran atas kesenjangan yang perlu segera diatasi. Tiga hal menentukan keberhasilan muhasabah adalah : pertama, perlu memiliki cahaya hikmah. Ini menyangkut pengetahuan yang mampu membedakan kebaikan dan keburukan.

Kedua, “Mencurigai “ diri sendiri Ini penting untuk melihat kelemahan dan kekurangan diri secara lebih obyektif. Ketiga, kemampuan membedakan nikmat dan ujian. Yang dimaksud ini adalah nikmat karena kasih sayang Allah atau sebagai pertolongan untuk mendapat kebahagiaan yang abadi, atau fitnah yang merugikan dirinya.

Esensi muhasabah adalah rasa tidak pernah puas terhadap segala kebaikan yang dilakukan. Diri senantiasa melihat kekurangan dalam ketaatan dan senantiasa merasa belum melaksanakan ketaatan itu sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah. Ayat penutup Surat al-Baqarah merefleksikan kerendahan hati orang-orang beriman, yang sekalipun sudah menunaikan kewajiban, tetap mohon ampunan kepada Allah swt.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Terjemah Arti : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

Bahkan Rasulullah Nabi Muhammad SAW, setelah menunaikan tugasnya yang sukses dan menjelang ajalnya tiba selalu mengucapkan istighfar.

Sumber bacaan : Spritual Manajemen karya Sanerya Hendrawan, Ph. D

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *