Jangan Kau Sebut Kampungku

Hari keduapuluhdua ramadhan 1442 H

Setiap ada yang menyebutkan nama kampungku, seketika kutemukan dua sosok manusia yang telah membesarkan, membimbing, saling berdiskusi, saling menebar kasih sayang. Namun beliau telah dipanggil Allah swt. Rasa rinduku semakin menggebu. Terlebih kala takbir menggema disela-sela perkampungan, atau menebar lewat masjid.

Setiap ada yang menyebut nama kampungku, kupingku ingin mendengar mercon bumbung. Teknologi tepat guna, entah siapa yang menemukan pertama kali. Suaranya bikin tangan geregetan menyulut suluh api yang dimasukkan ke lubang bambu. Seketika itu juga suara menggelegar. Hati girang tak terperi. Hiburan kami, orang desa yang tak mampu membeli mercon obat. Namun suara mercon bumbunglah yang paling nostalgiatik.

Setiap ada yang menyebut nama kampungku, baju baru kutata rapi diantara himpitan pakaian lainnya yang telah lusuh. Almari dapat kubuka sampai lima kali sebelum kukenakan sampai tanah lapang. Akan kuingat warna dan bau toko. Kuhitung garis dan warnanya tak berkurang. Kuingat gambar nama ikan tepat dibawah saku kiri, yang warnanya senada dengan celana celana pendek. Ayah memang seorang yang hebat memadukan warna.

Setiap ada yang menyebut nama kampungku, aku teringat jumlah lodongan tertata rapi di meja tengah maupun meja bundar didepan. Aku yang menata kue kering dengan sangat ritmis. Kupastikan kue tertata rapi sesuai bentuknya. Kututup lodongan dengan penyekat kertas, agar udara tak masuk kedalam. Kue akan awet renyahnya untuk beberapa hari kedepan.

Setiap ada yang menyebut nama kampungku, penganan buatan ibu atau mbah putri selalu menarik perhatian. Wajik, ketan, jenang alot, tape, kolang-kaling, ager-ager, bila ini dirasa kurang silahkan sebutkan sendiri nama penganan di rumahmu buatan tangan-tangan perkasa yang tak kenal lelah. Sungguh aku rindu manisnya wajik merah, sungguh aku kangen kecutnya tape yang dicangkul dengan emping, sumpah aku ingin merasakan kemeruyuknya rengginang.

Setiap ada yang menyebut nama kampungku, teringat ketupat bergelantungan di dinding pawon. Tempat yang tidak mungkin kulupakan, karena dari sanalah aku tumbuh. Ritual yang tidak pernah terlupakan membuat opor ayam. Menyembelih ayam bagi kami, tidak mesti dua atau tiga bulan sekali. Kehadiran ayam terpanggang di atas wajan yang telah diguyur air santan, bikin ludah semakin deras kutelan. Api menjilat-jilat untuk membakar wajan. Asap yang membuat pedih mata hingga keluar air mata. Namun sekarang air mata terasa pedih karena tidak asap dapur.

Setiap ada yang menyebut nama kampungku, anak-anak tidak ada yang gondrong. Semua cukur pendek. Kebanyakan model kuncung. Satu kebiasaan yang tidak boleh ditawar. Bagi kami, tukang cukur bak malaikat yang siap menyikat habis rambut kepala kami. Dengan alat cukur, yang entah sudah diasah atau belum, yang jelas rambut terasa pating clekit, ngampet sakit. Hanya satu obat yang membuat kami tak merasakan sakit. Sesuk bodo.

Setiap ada yang menyebut nama kampungku, berkelompok-kelompok anak-anak sungkem ke tetangga. Ikut-ikutan minta maaf. Yang sering kami ucapkan adalah “Mbah kulo nyuwun ngapunten” hanya singkat seperti itu. Tapi simbah tetap tersenyum, meskipun buah jambu atau jeruknya sering kami curi.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *