Karya Intelektual Islam Indonesia (2)

Hari ketigapuluh ramadhan 1442 H

Di Aceh, Ia bermukim selama tujuh tahun. Ia sangat dekat dengan pihak istana, sehingga diangkat menjadi mufti kerajaan. Kesempatan yang diberikan oleh pihak istana tidak disia-siakan. Ia banyak menulis kitab. Karyanya meliputi berbagai cabang ilmu pengetahuan yang berkembang pada zamannya. Beliau menguasai ilmu aqidah, fikih, hadits, tafsir, tasawuf, filsafat dan lain-lain. Tak kurang dari tiga puluh karya lahir dari tangan beliau. Buku-buku yang terlacak antara lain :

Ash-Shirath al-Mustaqim (jalan lurus). Sebuah kitab hukum Islam tentang ibadah shalat, zakat, puasa dan haji. Ia juga membahas tentang hukum kurban, berburu, halal dan haram dalam makanan.

Darrut al-Fara’id bi Syarh al-Aqa’id (Permata Berharga tentang Uraian Aqidah). Sebuah kitab berbahasa melayu tentang aqidah. Kitab ini merupakan saduran dari kitab Arab yang berjudul Syarh al-Aqa’id an-Nasaiyyah karya Imam Sa’duddin at-Taftazani.

Bustan as-Salatin fi Dzikr al-Awwalin wa al-Akhirin (Taman Para Sultan tentang Riwayat Orang-orang Dahulu dan Kemudian). Sebuah buku tentang sejarah terbesar dalam bahasa Melayu yang pernah ditulis oleh Syaikh Nuruddin pada zaman itu. Dijelaskan dalam buku itu tentang sejarah negara-negara Melayu, terutama Malaka dan Pahang.

Nawawi Tanara

Nama lengkapnya Imam Muhammad Nawawi lahir di Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Serang, Jawa Barat. Wafat pada usia 84 tahun. Sejak usia muda gemar mengembara, berguru dari beberapa syaikh. Belajar langsung di pusat pengetahuan Islam, yaitu di Masjidil Haram Makkah. Ia menimba ilmu langsung dari Sayyid Ahmad Nakhrawi, Syaikh Sayyid Ahmad Dimyati, dan Syaikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Setelah itu beliau belajar di Madinah pada Syaikh Muhammad Khatib al-Hambali.

Setelah merantau dalam rangka mencari ilmu di berbagai negara, beliau pulang ke tanah air. Namun karena kebijakan politik penjajah Belanda, yaitu mengawasi gerak-gerik para ulama, beliau kembali lagi ke Makkah dan bermukim di perkampungan Syi’ib Ali sampai akhir hayatnya.

Murid-murid beliau adalah orang yang berpengaruh terhadap perkembangan Islam di Indonesia, antara lain : KH. Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. KH. Khalil, Bangkalan, Madura, Jawa Timur. KH. Asnawi, Caringan, Labuan, Pandeglang, Serang, Banten, dan lain-lain.

Tidak kurang dari 115 kitab (versi lain 99 kitab) yang lahir dari pena beliau. Buku yang ditulis tentang ilmu tafsir, hadits, sejarah, fikih, akhlak, tasawuf dan bahasa. Hampir seluruh kitab tersebut kini dipelajari di pondok-pondok pesantren salafi maupun majelis ta’lim. Bahkan ada beberapa kitab yang dijadikan pedoman terutama fikih dan tauhid. (bersambung)

Dirangkum dari buku : “Warisan Intelektual Islam Indonesia”. Penyunting : Ahmad Rifa’i Hasan

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *