Karya Intelektual Islam Indonesia (1)

Hari keduapuluhsembilan ramadhan 1442 H

Literasi, yang sekarang masih harus disemarakkan, didorong dan digembirakan, ternyata nenek moyang kita telah melakukan jauh sebelum republik ini berdiri. Semangat membaca dan menulis dikalangan santri waktu itu begitu menggebu. Hasil karya mereka terdokumen dengan baik. Dapat dibaca dan dipelajari serta dianalisa hingga kini. Mereka produktif dalam keterbatasan sarana berliterasi.

Secara periodisasi, tradisi pemikiran Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, yaitu tradisi intelektual yang belum bersentuhan dengan paham-paham pembaharuan seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan sebagainya. Sedangkan periode kedua adalah pemikiran yang berkembang setelah masa modernisme.

Periode pertama dipelopori oleh Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumantrani, Nuruddin ar-Raniri, Syaikh Nawawi, Kyai Ihsan, Ronggowarsito dan lain-lain. Karya-karya mereka belum dikenal atau masih sangat terbatas. Mungkin hal ini disebabkan letak geografis Indonesia yang letaknya berjauhan dari pusat Dunia Islam. Kemungkinan kedua, para sarjana yang mengenal karya-karya tersebut, jarang mempublikasikan lewat jaringan Internasional.

Periode kedua dipengaruhi oleh modernisme Islam, seperti H.O.S Cokroaminoto, H. Agus Salim, Abdullah bin Nuh dan lain-lain. Mereka boleh dikatakan peletak dasar Islam modernisme yang pemikirannya dilanjutkan oleh, seperti Nurcholis Madjid, M. Dawam Rahardjo, Jalaluddin Rahmat, Abdurrahman Wahid, Kuntowijoyo dan lain-lain.

Berikut disampaikan beberapa intelektual yang dapat kita telusuri lewat karya monumentalnya.

Syaikh Nuruddin Ar Raniri

Puncak kejayaan Kerajaan Islam Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (meninggal 1636 M). Kerajaan Aceh pada abad keenambelas mempunyai pengaruh yang sangat kuat di Kawasan Asia Tenggara. Kemakmuran dan kejayaan kerajaan ini kerap dikunjungi orang, bukan hanya dari komunitas saudagar, namun sarjana dan ulama, terutama dari Timur Tengah dan India.

Kehadiran sarjana dan ulama, sangat mempengaruhi kehidupan di Kerajaan Aceh. Aroma intelektualnya begitu kuat terutama perkembangan agama, tasawuf dan tarikat. Pusat-pusat studi didirikan secara resmi oleh kerajaan. Forum-forum resmi yang membahas keilmuan diberi peluang agar perkembangan ilmu pengetahuan semakin maju. Penulisan kitab-kitab atau buku-buku dipermudah, bahkan pihak kerajaan memberi fasilitas.  

Nama lengkapnya Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasanji bin Muhammad ar Raniri al-Quraisyi asy-Syafi’i lahir di Ranir (Rander) dekat Gujarat (India). Nuruddin ini adalah seorang syaikh dalam tarikat Rifa’iah yang juga seorang intelektual. Wawasan keagamaan dan pengetahuan keilmuannya sangat luas. Beliau tertarik untuk mengembangkan ilmu di Kerajaan Aceh. (bersambung)

Dirangkum dari buku : “Warisan Intelektual Islam Indonesia”. Penyunting : Ahmad Rifa’i Hasan

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *