Kreativitas dan Etos Kerja

Hari kesepuluh ramadhan 2442 H

“Setiap anak dilahirkan di atas dasar fitrah sampai waktunya dia dapat bicara dengan jelas, kemudian ibu bapaknyalah yang bisa menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. (HR Aswadu Ibnu Syari’).

Hadits ini banyak yang menafsirkan. Pandangan pertama mengatakan bahwa anak dilahirkan seperti kertas putih. Kemudian yang menentukan corak warna dalam kerta itu adalah Ayah dan Ibunya. Dikembangkan lagi, bahwa yang mampu membuat gambar dengan baik di atas kertas tersebut adalah lingkungannya atau masyarakatnya.

Pendapat yang kedua, setiap anak yang dilahirkan dengan membawa bakat yang telah dimiliki sejak lahir. Lingkungan dimana anak dibesarkan hampir tidak dapat memberikan kontribusi yang berarti. Artinya bahwa anak memang memiliki ketrampilan tertentu memang ditakdirkan sejak lahir.

Aliran yang ketiga, mencoba menggabungkan teori pertama dan kedua. Pandangan ini sering disebut konvergensi. Setiap anak memang membawa bakat tertentu sejak lahir, tapi perkembangan berikutnya sangat tergantung dari pengaruh lingkungan. Lingkungan yang baik, akan membawa anak tumbuh menjadi orang baik. Sebaliknya bila alam seputar tidak baik, anak akan terpengaruh dengan perilaku yang tidak baik pula.

Sebenarnya, maksud “suci” pada khadits di atas adalah “ad-dien” (agama), karena agama sangat erat kaitannya dengan akhlak. Sehingga suci dimaknai dengan bersih dalam hal moral. Dalam Islam tidak mengenal dosa turunan. Maka bila orangtua yang memiliki perilaku yang tidak bermoral, belum tentu anaknya menjadi tidak bermoral. Sebaliknya, bila orang tuanya dikenal sebagai orang yang bersih, mungkin anaknya menjadi koruptor.

Teori pendidikan modern memberi isyarat bahwa sebaiknya anak sudah harus dikenalkan dengan berbagai macam pengetahuan dan ketrampilan. Usaha semacam ini tentu harus disesuaikan dengan kondisi anak. Generasi x dan generasi y tentu berbeda cara memberi asupannya. Apalagi dengan generasi z, yang sudah mampu menyerap pengetahuan hanya dengan melihat dan mencoba.

Kreativitas generasi z yang sedang booming ini terus diberi bekal dengan berbagai macam perkembangan keduniaan, namun tidak boleh lepas dari akar fitrahnya yaitu menanam “ad-dien”. Demikian pula tetap menanam pohon-pohon akhlak mulia yang senantiasa menghiasi perilakunya.

Andai dua kekuatan besar (pengetahuan dan akhlak) menyatu dalam diri anak, maka akan melahirkan etos kerja dengan kadar yang tinggi. Etos kerja inilah yang disinyalir memunculkan indikator sifat rajin belajar, bertanggung jawab, bekerja keras, disiplin yang tinggi. Tak heran bila orang yang berprestasi lahir dari budaya etos kerja.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *