Jum’at Berkah

Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan,

(Ar Rahman 55 : 5)

Dalam ilmu pengetahuan, matahari bermanfaat untuk kehidupan di alam jagat raya ini. Ada yang menyebutkan matahari sebagai sumber energi. Ada yang mengatakan matahari sebagai pusat kehidupan. Imunitas kesehatan. Membantu perkembangan tumbuh-tumbuhan. Bahkan ada yang menjadikan matahari sebagai tuhan.

Surat Ar Rahman di ayat yang ke-5, Allah memberitahu kepada manusia bahwa matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Artinya, Allah menyuruh kepada manusia untuk menghitung apa yang dilakukan matahari dan bulan. Perhitungan itu bermanfaat untuk pengetahuan dan membantu manusia dalam segala hal. 

Dalam surat Yunus ayat yang ke-5, lebih terinci lagi. Ada kata “adad dan sinin” . ‘Adad berasal dari kata ‘adda – ya’uddu – ‘addan – ‘adadan yang berarti menghitung. Adapun sin atau sanah artinya tahu. Sehingga kata “adadus sisin” berarti hitungan tahun-tahun. Tahun disini memiliki konotasi satuan hitungan waktu yang biasa dipergunakan manusia untuk mengetahui perjalanan kehidupan mereka.

Albert Eistein mengatakan bahwa waktu termasuk dimensi yang keempat. Newton berpendapat bahwa waktu dan ruang itu termasuk dimensi yang tidak dapat berubah. Jadi, waktu tidak dapat dipercepat dan diperlambat. Waktu akan berjalan dari detik ke detik sampai membentuk abad.

Waktu yang berjalan secara konstan tersebut sangat sebangun dengan peredaran matahari, bulan dan benda-benda langit lainnya. Masing-masing akan terus berputar pada sumbunya dan bergerak sesuai dengan garis edar yang telah ditetapkan. Dengan keteraturan ini, meskipun jumlahnya sangat banyak, benda langit itu tidak ada yang bertabrakan. Masing-masing akan berputar sesuai aturannya dan tetap pada orbitnya. Itulah kekuasaan Allah.

Bila dihubungkan dengan surat al Jasiyah ayat ke-5, akan tampak hubungan antara kekuasaan Allah dengan orang-orang yang beriman dan berakal. Dalam surat ini ada kata-kata qaumun dan ya’qilun. Qaumun berarti kelompok manusia atau masyarakat, sedangkan ya’qilun berarti kata kerja berpelaku banyak, yang artinya menggunakan akal. Sehingga kata qaumun  ya’qilun mengandung arti manusia yang selalu menggunkan akalnya, memikirkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Akal yang dianugrahi Allah kepada manusia hendaknya digunakan dengan sebaik-baiknya. Akal berpotensi untuk berfikir, menganalisis, mempertimbangkan, dan memahami segala hal. Dengan akal manusia supaya memikirkan ciptaan-Nya.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *