Memperpanjang dan Memperpendek Umur

Ramadhan tahun 1441 H hari enambelas

Dialog berikut terjadi antara seorang kakek dengan seorang penguasa dinasti Bani Abbas.
“Berapakah umur kakek?” tanya sang penguasa.
“Sepuluh tahun,” jawab sang kakek.
“Jangan berolok-olok,” sergah sang penguasa.
“Benar tuan, umurku baru sepuluh tahun. Enampuluh tahun dari usiaku, kuhabiskan dalam dosa dan pelanggaran. Baru sepuluh tahun terakhir ini aku mengisi hidupku dengan hal-hal yang memakmurkannya,” jawabnya.
Kata umur diambil dari kata yang sama dengan ma’mur sehingga keduanya harus menggambarkan kemakmuran serta kebahagiaan dan kesejahteraan jasmani dan ruhani. Di sini terlihat bahwa aktivitas manusia mempunyai kaitan yang erat dengan umurnya, bahkan jauh lebih dari itu adalah dalam hal panjang dan pendek usianya.
Kita harus yakin bahwa usia berada di tangan Tuhan. Tetapi ini tidak berarti bahwa usaha untuk “memperpanjangnya” tidak akan berhasil. Usaha akan berhasil bila direstui Allah dalam arti sesuai dengan sunnatullah. Apa pun usaha manusia selama sejalan dengan sunnatullah pasti berbuah, termasuk usaha memperpanjang usia.
Sabda Nabi saw. “Siapa yang berkeinginan diperpanjang usianya serta diperluas rezekinya, maka hendaklah ia menghubungkan silaturahmi. Agaknya hadits Nabi ini sejalan maknanya dengan anjuran para dokter dan pengusaha, yaitu “hindarilah stres dan jalin hubungan yang akrab, niscaya rezeki akan datang melimpah dan hidup menjadi tenang sehingga usia dapat bertambah.”
Dalam Al-Quran tidak dijumpai satu kalimat pun yang dapat diterjemahkan dengan “Saya (Tuhan) memanjangkan usia.” Redaksi yang digunakan Al-Quran adalah: Kami memanjangkan usia (QS 35: 37 dan 36: 68) atau Siapa yang diperpanjang usianya (QS 2:96 dan 35: 11). Bukankah redaksi-redaksi tersebut memberi kesan bahwa manusia dapat mempunyai keterlibatan dan usaha demi panjang atau pendek usianya?
Marilah kita berusaha untuk memperoleh usia yang panjang dan umur yang banyak bagi diri kita masing-masing, masyarakat bangsa kita, bahkan umat manusia seluruhnya

Disarikan dalam buku Lentera Al Qur’an karya Prof. DR. M. Quraish Shihab

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *