“Suriah jangan disamakan dengan Libya. Libya berbeda dengan Suriah” ketus Bashar, Presiden Suriah, dalam sebuah wawancara dengan media asing. Para pembesar dilingkup kepresidenanpun sama saja. Mereka mengatakan bahwa jika rezim Bashar al-Assad tumbang, seluruh kawasan Timur Tengah akan ambruk pula. Benarkah?

Beberapa hari yang lalu Liga Arab telah mengucilkan Negara Suriah. Bahkan, bila Negara itu tidak memperbaiki diri, dan masih menelantarkan warga sipil, tidak menutup kemungkinan bahwa Suriah akan dikeluarkan dari keluarga Liga Arab.

Bashar al-Assad

Bashar al-Assad adalah anak kedua dari Hafez al-Assad, Presiden Suriah yang wafat tanggal 10 Juni 2000. Sebenarnya Hafez telah mempersiapkan calon pengganti dirinya yaitu Basir al-Assad. Namun karena kecelakaan dalam mengendarai mobil hingga tewas, maka jalan satu-satunya adalah memanggil Bashar yang saat itu telah menjadi seorang dokter mata.

Basir yang digadang-gadang untuk meneruskan estafeta kepemimpinan ayahnya adalah seorang militer tulen. Sejak kecil sudah dikenalkan oleh ayahnya tentang militer, mulai dari kedisiplinan, mengenal senjata sampai pada belajar strategi.

Bashar sendiri sepertinya tidak berminat untuk menjadi seorang militer apalagi pemimpin. Bila dibandingkan dengan rekan  seangkatan, seperti Raja Abdullah, Bashar lebih dikenal sebagai Dr Bashar, karena memang dia sendiri seorang dokter dan tidak tertarik pada politik dan militer. Ia lebih senang menekuni bidang pendidikan, yang menurut pengakuannya bahwa dimasa depan Suriah akan berbeda dengan saat ini. Rakyat Suriah harus berpendidikan dan melek teknologi. Keyakinan ini tetap dipegang teguh hingga sekarang, sehingga kalau saat ini Suriah mengalami krisis politik karena memang dia sendiri tidak begitu berminat dalam politik. Bisa jadi urusan politik dan militer ia percayakan kepada pembantunya, yang mungkin saja pembantunya itu mencari kesempatan dalam memegang kekuasaan.

Tampilnya Bashar al-Assad sebagai pemimpin di Suriah, yang semula diragukan kemampuannya terlebih karena kurang memiliki pengalaman politik, pada akhirnya tetap menarik perhatian banyak kalangan. Ia memiliki karakter yag berbeda. Lain halnya ayahnya. Hafez adalah seorang militer tulen, sekaligus seorang politisi ulung. Hafez memang bukan seorang pemimpin karbitan. Ia telah meniti karies sejak belia. Bahkan, sebelum memangku jabatan sebagai presiden, Hafez pernah dipercaya sebagai menteri pertahanan.

Dunia Arab memang tidak akan pernah kering untuk dikaji, baik secara ekonomi mapun politik. Minyak menjadi andalan penopang ekonomi di kawasan timur tengah. Nato adalah dalang dari runtuhnya Libya, yang tidak lain hanya akan menguasai minyak. Mesir bergolak, juga dilatar belakangi  gas alam. Berpuluh tahun Israel menikmati gas alam dengan harga murah, karena Hosni Mubarak.

Secara politik, banyak negara-negara di kawasan Timur Tengah berbentuk Republik tapi dalam kenyataannya masih menganut monarkhi. Secara tertulis adalah demokrasi, tapi dalam prakteknya masih mempertahankan sistim kerajaan. Bashar al-Assad adalah seorang Presiden hasil pemilihan umum. Tapi, seperti yang sudah diduga, bahwa pemilu hanyalah formalitas. Angka-angka yang menunjukkan bahwa Ia menang dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan. Begitu dinyatakan menang dan dinyatakan sebagai presiden, banyak yang menyangsikan kemampuan Bashar dalam memimpin Suriah. Kata penasehat militer bahwa Bashar “tidak memiliki naluri membunuh”. Mungkin, Bashar harus banyak belajar dari politisi Indonesia.

Bahan bacaan : Dari Damaskus ke Baghdad karya Trias Kuncahyono

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *