Meneropong Masa Depan

Jum’at Berkah

“Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa kepada Allah, mendengar dan mentaati, sekalipun kepada budak keturunan Habsyi(HR Ahmad)

Kedua kata, yaitu mendengar dan mentaati, mempersatukan kebahagiaan dunia dan akhirat. Adapun taqwa merupakan penjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat.Ibnu Katsir menyatakan bahwa kalimat “sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa”, menunjukkan bahwa tatkala Allah memerintahkan kepada hambaNya untuk mengambil bekal dunia, maka Allah menunjuki kepadanya tentang bekal menuju akhirat (yaitu taqwa).

Allah menganugerahkan kepada hamba-hambaNya pakaian penutup aurat (al-libas) dan pakaian indah (ar-risy), maka al-libas merupakan kebutuhan yang haru. Sedangkan ar-risy sebagai tambahan dan penyempurna. Artinya Allah menunjuki kepada manusia bahwa sebaik-baik pakaian yaitu pakaian yang bisa menutupi aurat yang lahir maupun batin, dan  sekaligus memperindahnya, yaitu pakaian at-taqwa.

Faktor apa saja yang dapat menunjang agar kita merasa dalam suasana taqwa?

Pertama, Mahabbah. Ibnu Qayyim menggambarkan bahwa “Mahabbah itu ibarat pohon (kecintaan) dalam hati, akarnya adalah merendahkan diri di hadapan Dzat yang dicintainya, batangnya adalah ma’rifah kepadaNya, rantingnya  adalah rasa takut kepada (siksa)Nya, daunnya adalah rasa malu  terhadapNya, buah yang dihasilkan adalah taat kepadaNya, bahan penyiramnya adalah dzikir kepadaNya, kapan saja, jika amalan-amalan tersebut berkurang maka berkurang pulalah mahabbahnya kepada Allah”. (Raudlatul Muhibin, 409, Darush Shofa).

Kedua, Menjauhi penyakit hati. Sebenarnya tidak ada yang namanya  kejahatan dan bencana besar, kecuali penyebabnya adalah perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat. Adapun penyebab dosa  itu teramat banyak sekali, di antaranya penyakit hati, penyakit yang cukup kronis, yang menimpa banyak manusia, seperti dengki, yang tidak senang kebahagiaan menghinggap kepada orang lain, atau ghibah yang selalu membicarakan aib orang lain.

Ketiga, Mewaspadai tipu daya setan. Seperti kita ketahui bersama bahwasanya setan  menghalangi orang-orang mu’min dengan beberapa penghalang. Pertama adalah kufur, jikalau seseorang selamat dari kekufuran, maka setan menggunakan caranya yang kedua yaitu berupa bid’ah. Jika selamat pula maka ia menggunakan cara yang ketiga yaitu dengan dosa-dosa besar. Bila asih tak berhasil dengan cara ini ia menggoda dengan perbuatan mubah,  sehingga manusia menyibukkan dirinya dalam perkara ini. Bila tidak mampu juga maka setan akan menyerahkan bala tentaranya untuk menimbulkan berbagai macam gangguan dan  cobaan silih berganti.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *