Mengenal Prof. Dr.rer.nat. Widodo, M.S.

Satu lagi. Indonesia kehilangan putra terbaik dalam bidang Matematika. Saat Indonesia akan berusia tiga per empat abad. Kala Bangsa dan Negara sangat membutuhkan buah pikiran untuk kemajuan Bangsa terutama pada sector Matematika. Tetap saja, hidup dan mati itu adalah hak yang di atas. Allah swt lebih sayang kepadanya. Mungkin, dengan menghadapnya Prof. Widodo (alm), Allah akan menguji kepada kita. Seakan Allah berkata “Tirulah dia”.

Kami, selaku komunitas Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika Kota Yogyakarta, sangat kehilangan seorang panutan. Beliau dalam berbagai even sangat respek terhadap kegiatan MGMP Matematika. Bahkan tak jarang memberi saran dan juga dorongan, agar MGMP Matematika menjadi salah satu pilar kemajuan Pendidikan khususnya di Yogyakarta.

Sebagai seorang yang pernah menahkodai Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidika (P4TK) Matematika, tentu memiliki komunikasi yang cukup intens dengan MGMP Matematika. Hubungan yang tak sekedar transfer kelembagaan, keilmuan, ataupun koordinasi, namun lebih pada membangun sinergitas untuk keunggulan Matematika.

Ada beberapa kesempatan yang kami dokumentasikan, bagaimana beliau secara sungguh-sungguh menangani matematika secara serius. Misalnya tentang “Profesor Goes to School”. Kegiatan ini berjalan dengan sangat baik. Terlaksana di SMP Negeri 3 Yogyakarta. Kapasitas kami sebagai peserta yang diundang oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Prop. DIY. MGMP mengapresiasi usaha Dinas Pendidikan untuk menghadirkan nara sumber dati Universitas Gajah Mada yaitu, Prof. DR. Kirbani Sro Brotopuspito dosen Geofisika dan Prof. DR. Rer. Net. Widodo dari MIPA UGM.
Forum ilmiah itu sengaja menghadirkan ilmuan dengan tujuan agar perkembangan ilmu murni dapat diterapkan dalam dunia pendidikan. Usaha ini juga diperkuat oleh kelembagaan dewan pendidikan DIY. Diharapkan kajian ilmiah tidak hanya sampai disitu. Tentu usaha-usaha yang dilakukan oleh peminat pendidikan masih terus ditunggu gebrakannya dalam rangka mendongkrak mutu pendidikan.

Dalam sebuah kesempatan, beliau cukup prihatin dengan pelajaran matematika yang seakan-akan menakutkan. Setidaknya ada tiga alasan yang bisa menjelaskan mengapa matematika dianggap pelajaran ‘menakutkan’. Alasan pertama datang dari faktor buku teks, lalu kedua guru di sekolah, dan ketiga dari si anak sendiri.

Di Indonesia buku teks pelajaran matematika yang ada dinilai tampil kurang menarik dengan fisik yang tebal berisikan teori-teori. Seharusnya teks disajikan dengan konteks kehidupan sehari-hari agar seseorang terutama anak bisa merasa terlibat.“Lihat di toko, buku matematika manapun tidak banyak yang punya konteks. Langsung teori limit langsung integral apa menariknya? Matematika jadi terasa abstrak,”.

Kedua adalah faktor guru. Menurut studi yang sama hanya sekitar 11 persen guru di Indonesia yang memang memiliki kompetensi dan keterampilan baik untuk mengajar matematika. Artinya sebagian besar anak diajarkan oleh seseorang yang sebetulnya tidak mengerti atau kesulitan membuat matematika sebagai sesuatu yang menarik.

“Ketika murid bertanya sesuatu yang abstrak gurunya tidak tahu terus marah. Gurunya itu tidak terbiasa menggunakan inovas. Guru juga jarang senyum.

Faktor terakhir adalah asumsi bahwa matematika itu sulit dari si anak sendiri. Matematika sudah telanjur dianggap sebagai sesuatu yang susah sehingga tertanam dalam pada anak membuatnya malas untuk belajar.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *