Hari keduapuluhtiga ramadhan 1442 H

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al Ankabut [29] : 64)

Setiap orang pasti mendambakan hidup mulia dan bahagia. Setiap orang pasti akan menghindar dari kecelakaan dan kesusahan. Setiap orang pasti akan menghidar dari perilaku-perilaku yang mencelakakan diri dan keluarganya.

Kehidupan ini memang dipenuhi dengan kompetisi, berlomba-lomba menjadi manusia yang baik, menjadi pribadi yang bermanfaat, dan diakhiri dengan kemuliaan. Hidup mulia merupakan pilihan yang sangat mudah diucapkan, tapi untuk menggapai kemuliaan bukan persoalan yang gampang. Jalan yang hendak diterjang penuh dengan rintangan. Setiap naik tingkat pasti ada ujiannya. Yang diuji adalah akal dan hati, yang menilai adalah detak jantung.

Hidup mulia dapat diukur dari seberapa manfaat buat orang lain. Adakah orang lain merasa terusik dengan kehadiran kita, atau orang lain merasa nyaman dengan keberadaan kita. Hidup mulia dapat pula ditinjau dari seberapa besar kita memberi maaf kepada orang lain, memberi tanpa mengharap kembali. Apakah hari ini lebih baik kemarin. Esok akan melakukan yang terbaik.

Ukuran dalam Al Qur’an, hidup mulia itu adalah beriman dan beramal shalih. Ibarat dua sisi mata uang. Beriman saja tanpa beramal shalih, bagai layang-layang putus dari benangnya. Beramal shalih tanpa iman, tiada bermanfaat. Menghambur-hamburkan tenaga, pikiran dan harta. Indikator kedua agar manusia memperoleh kemuliaan, berilmu dan mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu yang diamalkan ibarat cahaya yang terang benderang.

Apabila kemuliaan ini didapatkan dengan cara yang tulus, maka kebahagiaan akan diperoleh dengan sendirinya. Kebahagiaan yang hakiki, yang dapat dirasakan oleh dirinya sendiri. Kebahagiaan itu dirasakan oleh jiwa dan tubuh. Kebahagiaan itu menjadi hak bagi keduanya. Kebahagiaan bukanlah yang terjadi pada kita. Kebahagiaan adalah bagaimana kita mempersepsi apa yang terjadi pada kita. Ketrampilan menemukan hal-hal yang positip.

Kebahagiaan adalah perintah dari Allah yang harus diusahakan oleh manusia. Dalam Al Qur’an sangat jelas bahwa Allah memerintahkan kepada manusia untuk mencari apa yang telah dianugerahkan di akhirat (ukhrawi). Allah juga memperingatkan agar di dunia ini untuk meraih kebahagiaan (duniawi). Bila memang demikian mengapa manusia abai terhadap kenikmatan.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *