Musketeers di Sekolah

Tahun 1844 M, seorang penulis berkebangsaan Prancis bernama Alexander Dumas menulis sebuah kisah hayalan yang dipaksakan menjadi legendaris fiktif berjudul  “The Three Musketeers” kisah 3 legendaris pendekar berkuda pemabuk yang bertugas menjaga Raja Prancis Luis XIII.

The Three Musketeers bisa disebut sebagai salah satu dari sekian banyak roman petualangan yang ‘survive’ dari abad ke 19 dan masih memiliki tempat dalam ruang-ruang baca sastra di seluruh dunia sampai akhir paruh ke dua abad ke 21 ini.

Dalam kisahnya, Musketeer, manurut asal usulnya adalah sekelompok prajurit yang bertanggungjawab pada keselamatan raja. Di era monarkhi, raja adalah tuhan. Detak jantung  seseorang akan terus berdenyut atau mengakhiri hidup tergantung raja. Keberadaan seorang raja harus selalu tampil berwibawa, entah dia memiliki kharisma atau kewibawaan raja dibuat-buat, akan sangat tergantung sekelompok prajurit yang bernama musketeer.

Dalam perjalanan musketeer bisa berubah ujud dan nama, tapi esensi dan maknanya tidak akan berubah. Di era demokrasi seperti saat ini, musketeer dibutuhkan oleh kepala negara. Musketeer tidak lagi punggawa yang selalu membawa senjata, namun menjelma menjadi sekelompok orang yang fungsinya memberi masukan yang utama bagi kepala negara untuk mengambil keputusan.

Melihat posisi musketeer yang demikian sentral, maka tegak robohnya sebuah negara berada dipundak musketeer. Keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh kepala negara menjadi tanggungjawab musketeer.

Setali tiga uang. Negara dan sekolah pada dasarnya mirip. Pengelelolaan sekolah yang bagus, merupakan hasil dari pemikiran musketeer. Mereka adalah orang yang mampu menerjemahkan dan menafsirkan arah kebijakan sekolah.

Kepala sekolah boleh berganti, wakil kepala bisa mengalami rotasi. Namun musketeer tidak boleh dihilangkan. Kelompok kecil yang memiliki wawasan yang jauh ke depan, ketrampilan yang mumpuni, serta memiliki daya juang yang tangguh. Dari mereka inilah sebenarnya budaya sekolah dapat terbentuk.

Membentuk budaya sekolah tidak bisa sekejap, dan dapat dilihat hasilnya. Budaya sekolah mengalami proses yang panjang, bahkan dapat pula melewati beberapa generasi. Terkadang kita silau terhadap kepemimpinan kepala sekolah dalam menahkodai laju sekolah. Kita akan menilai seketika, bahwa sekolah itu hasil kerja kepala sekolah. Anggapan ini salah, menurut hemat penulis. Sekolah merupakan keluarga besar tempat berkumpulnya orang untuk berdialog, kompromi dan melakukan kesepakatan. Dari kompromi itulah sebenarnya menghasilkan keputusan yang sangat besar dalam kontribusinya terhadap kemajuan sekolah.

Akhirnya, tak bisa ditawar lagi bahwa sekelompok orang yang terlatih (musketeer) harus dibentuk.  Bukan alamiah, namun terencana, terprogram dan melibatkan orang-orang yang memiliki sumber daya manusia yang cakap.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *