Ramadhan tahun 1441 H hari kesembilanbelas

Kisah Nabi Ibrahim dalam meniti waktu, hingga saat ini adalah peristiwa beliau bersama dengan Nabi Ismail. Kisah heroik antara ayah dan anak, yang dikemudian hari menjadi sebuah ritual bagi umat Islam adalah perayaan Iedul Adha. Sang anak (Ismail) berhasil meyakinkan Nabi Ibrahim bahwa mimpi untuk menyembelih dirinya datang dari Allah swt.

Nabi Ibrahim memiliki anak yang kelak menjadi nabi yaitu : Ismail, buah perkawinannya dengan Hajar al-Qibthiyah al-Misriyah. Kedua bernama Ishaq yang merupakan keturunan dari Sarah. Dikalangan umat Islam Nabi Ismail lebih banyak dikenal dibanding Nabi Ishaq.

Ishaq adalah putra kedua Nabi Ibrahim setelah Ismail. Ibunya bernama Sarah  yang juga merupakan orangtua dari Nabi Ya’qub. Nabi Ishaq diutus untuk masyarakat Kan’an (Tanah Kanaan ini luas wilayahnya meliputi Israel, Lebanon, Yordania, Suriah dan Sebagian Timur Laut Mesir), khususnya di kota Hebron atau Khalil (sekarang Tepi Barat, Palestina), karena kaumnya tidak mengenal Allah. Sejarah Nabi Ishaq sangat sedikit diceritakan dalam al Qur’an. Nama Ishaq disebut dalam al Qur’an setidaknya sebanyak 17 kali.

Sebelum kelahiran Ishaq, Sarah dan suaminya, Ibrahim, mendapatkan kabar gembira dari Allah melalui malaikat Jibril. (Dalam versi lain, malaikat utusan Allah menjelma menjadi manusia. Karena Nabi Ibrahim adalah tipe orang yang senang menjamu tamu, maka tamu tersebut disambut dengan gembira dan dijamu dengan menyembelih seekor domba. Malaikat yang menjelma menjadi manusia itu tidak makan. Seketika Nabi Ibrahim mengetahui siapa orang yang dihadapannya itu. Dia adalah malaikat).

Malaikat Jibril menyampaikan pesan dari Allah, bahwa Sarah akan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Ishaq yang kelak akan menjadi seorang nabi. Namun, Sarah tersenyum karena merasa heran dan aneh. Dia merasa aneh karena tidak mungkin dia dan suaminya dapat memberi keturunan jika usia mereka sudah cukup tua. Sarah berumur 90 tahun, sementara Nabi Ibrahim telah berusia 120 tahun (versi lain menulis Nabi Ibrahim berumur 100 tahun). Ishaqpun akhirnya lahir di Kota Hebron di daerah Kan’an pada tahun 1897.

Bersama Ismail, Ia menjadi penerus ayahnya untuk berdakwah di jalan Allah. Ketika Ibrahim telah sangat tua, dan Ishaq pun belum juga menikah, maka Ishaq diperintahkan untuk segera menikah. Namun, Nabi Ibrahim tidak mengijinkan Ishaq menikah dengan wanita Kan’an karena masyarakatnya tidak mengenal Allah dan asing terhadap keluarganya. Karena itu, Ibrahim memerintahkan seorang pelayan untuk pergi ke Herran, Irak, mencarikan istri buat Nabi Ishaq.Misi yang diemban pembantu tersebut berhasil didapatkan. Dia membawa seorang perempuan dari keluarganya (Nabi Ibrahim). Perempuan yang dimaksud itu adalah Rafqah binti Batuwael bin Nahur, saudara Ibrahim yang kemudian dinikahkan dengan Ishaq.

Setelah 10 tahun menikah dengan Rafqah, lahirlah dua anak kembar. Anak pertama diberi nama Aish, dan anak kedua bernama Ya’qub yang memegang kaki saudaranya. Dari Ishaqlah kemudian terlahir nabi-nabi Bani Israil. Ya’qub memiliki dua belas putra : Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Dan, Naftali, Gad, Asyer, Isakhar, Zebulon, Yusuf, dan Benyamin.

Ishaq meninggal pada tahun 1717 SM, pada usia 180 tahun.

Sumber tulisan : Ar-Rahman The Inspire, terbitan al-Qolam.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *