Nabi Muhammad SAW dan Philip Kotler

Siapa yang tidak mengenal Philip Kotler. Saya percaya, bagi yang setiap hari terjun dipemasaran akan mengenalnya. Mahasiswa yang mengambil jurusan ekonomi, hampir pasti mengenal Philip Kotler. Beliau adalah seorang Profesor dari Kellog School of Managament, Universitas Northwestern. Ahli dalam bidang pemasaran. Seorang penulis khususnya pemasaran. Buku-buku yang beliau tulis lebih dari 80 ekseplar.

Philip Kotler bersahabat baik dengan ahli pemasaran dari Indonesia, Hermawan Kertajaya. Keduanya meruapakan pakar dalam bidang marketing. Banyak perusahaan-perusaan nasional maupun multinasional naik daun setelah mendapat asupan saran dari beliau. Semula, Hermawan adalah seorang guru yang merangkap menjadi konsultan perusahaan rokok. Tahun 1990, beliau keluar dari perusahaan, dan mendirikan konsultan “Markplus”.

Apa hubungannya antara Nabi Muhammad SAW dengan Philip Kotler. Dari sisi ekonomi, beliau berdua adalah konseptor pemasaran. Gelar al-Amin yang disematkan kepada Nabi Muhammad SAW, jauh sebelum beliau menjadi seorang Rasul. Al- Amin, yang berarti “orang yang dipercaya”, merupakan sebutan, yang jauh sebelum diangkat menjadi Rasul. Artinya, bahwa beliau telah mendapat tempat di masyarakat sebagai orang yang dapat dipercaya dalam arti sosial dan kemasyarakat.

Salah satu konsep dasar pemasaran dari Kotler adalah “Produk adalah sesuatu yang dapat ditawarkan untuk memenuhi kubutuhan atau keinginan”. Kalimat mutiara ini, kuncinya terletak pada menawarkan barang. Nabi Muhammad SAW, dalam menawarkan barang tidak pernah mengingkari keadaan barang itu sendiri. Ia akan katakan dengan jujur, bahwa barang tersebut dibeli dengan harga sekian, saya jual dengan harga sekian. Demikian pula memberi informasi yang jelas tentang kualitas barang tersebut.

Di era sekarang, menawarkan barang harus lewat promosi dan iklan. Kalau konsumen tidak hati-hati, maka akan termakan dengan iklan. Entah kualitas barang, harga barang, dan sistim penggunaan barang. Ada berapa banyak produsen berguguran karena menawarkan produksinya tidak sesuai dengan promosinya. Artinya konsep jual-beli tidak sejalan dengan konsep al-Amin. Apalagi jual-beli dengan sistem online.

Kedua, kalau dulu, rombongan kafilah terdiri dari beberapa pedagang. Mereka secara bersama-sama menuju suatu tempat, agar perjalanan aman dari ganguan perampok. Semangat ini dapat diadopsi untuk masa sekarang dengan kolaborasi. Sekarang, banyak produsen menggandeng beberapa pihak untuk kerjasama. Misalnya perusahaan yang menyediakan spare part. Kulitas harus sama dengan produsen. Perusahaan kerjasama dengan jasa transportasi. Sekarang sudah banyak penyedia transportasi, yang dapat mengakses sampai lorong-lorong perkampungan. Produsen berkolaborasi dengan penyedia gudang, untuk menempatkan barang-barang, agar sewaktu-waktu dibutuhkan konsumen, dapat dengan cepat sampai pembeli.

Kebiasaan-kebiasaan Rasulullah Muhammad SAW, bila digali dengan cermat, dan disesuaikan dengan jaman disrupsi 4.0 akan menghasilkan keuntungan yang proporsional. Nasehat-nasehat para ahli pemasaran sangat membantu secara teknik tentang pengelolaan ekonomi. Keuntungan inilah yang akan mengisi pundi-pundi shadaqah, infaq, yang selanjutnya untuk kemaslahatan umat.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *