Hari keduapuluhempat ramadhan 1442 H

“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Ar-Rahman: 7-9)

Saat masih SMA, saya pernah menerima pelajaran kimia. Dalam pelajaran itu ada materi yang namanya kesetimbangan antara dua atau lebih unsur-unsur dalam kimia. Saya diberitahu oleh guru, bahwa untuk mencapai kesetimbangan diperlukan rumus tertentu, agar kedua belah pihak mencapai kesetaraan. Lebih tepatnya proporsional.

Al Qur;an menyebut kata al-mizan pada ayat di atas yang memiliki makna timbangan atau takaran dunia (mizan ad-dunyaa). Adapun pada ayat berikutnya diartikan timbangan akhirat (mizan al-akhirat). Masih dalam ayat berikutnya dimaknai dengan timbangan akal (mizan al-aql). Kata al-mizan juga dapat bermakna alat menimbang atau keadilan, baik dalam arti menempatkan sesuatu pada tempatnya maupun dalam arti keseimbangan.

Perbedaan antara mizan dengan hisab adalah, kalau mizan berarti timbangan. Kalau hisab maknanya perhitungan. Dua kata ini artinya memang hampir sama. Sering kita dengar kata yaumul mizan dan yaumul hisab, yang memiliki maksud hari ditimbangnya seluruh amal baik dan buruk manusia untuk menerima keadilan dan balasannya.

Kata mizan dapat pula diartikan keseimbangan yang ditetapkan oleh Allah dalam mengatur system jagat raya. Masing-masing benda langit dapat berputar dan mengelilingi benda langit lainnya tanpa ada benturan. Semua begitu teratur. Demikian pula benda-benda yang ada di bumi. Semuanya juga sudah diatur sesuai sunatullah.

Mizan juga dapat pula berarti keadilan. Adil harus diujudkan dalam perilaku sehari-hari. Baik untuk kehidupan pribadi, keluarga maupun masyarakat. Untuk pribadi, berarti berlaku adil untuk dirinya sendiri. Mampu menempatkan hak dan kewajiban secara seimbang. Mengelola kehidupan fisik dan rohani secara merata.

Adil untuk keluarga berarti, mampu memberi suri tauladan bagi anggota keluarga. Memberi aktivitas sesuai dengan kadar kemampuan. Mengayomi anggota dalam bingkai kekeluargaan. Sedangkan adil terhadap masyarakat, adalah mampu menempatkan diri dalam komunitas, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip keagamaan, kewarganegaraan ataupun prinsip hak azasi manusia.

Kita harus meletakkan adanya pertimbangan dan perimbangan, sehingga menjadi teratur, meletakkan sesuatu pada tempatnya, tidak ada pihak lain yang dirugikan.  Mengkondisikan agar manusia memiliki kedudukan yang sama. Ibarat jari. Jemari manusia memang tidak rata, tapi kesejajaran, sehingga tiap jari memiliki fungsi sendiri-sendiri.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *