Ramadhan tahun 1441 H hari keduapuluh

Perasaan optimis merupakan kekuatan yang mampu membangkitkan kemauan untuk berbuat. Ia mampu menumbuhkan semangat jihad dalam melaksanakan kewajiban, menyingkirkan perasaan malas, serta menumbuhkan keseriusan dan sikap konsisten. Karena perasaan optimis akan memanen hasil pertaniannya, maka seorang petani rela berjemur di bawah sengatan terik matahari, bekerja sepanjang hari.

Karena perasaan optimis dapat sembuh, maka orang yang menderita sakit rela ditusuk jarum suntik dan menelan sejumlah pil pahit. Orang mukmin, karena dia optimis akan mendapatkan keridhaan Allah dan kenikmatan surge, maka dia bersedia melawan hawa nafsu, mentaati perintah dan menjauhi larangan Allah SWT.

Optimis mutlak diperlukan demi terealisirnya cita-cita dan terpenuhinya tugas, serta kewajiban. Seandainya kaum reformis tidak memiliki sikap optimis, tak mungkin mereka maju di tengah gelanggang perjuangan demi tercapainya perubahan. Karena perasaan optimislah maka yang jauh menjadi terasa dekat, yang terjal dan berliku terasa indah.

Lawan dari perasaan optimis adalah perasaan putus asa. Apabila hati seseorang telah disinggahi oleh perasaan putus asa, maka semangat untuk berbuatpun menjadi padam sama sekali. Sedemikian besarnya dampak negatif dari perasaan putus asa, hingga sahabat Mas’ud ra pernah berkata “Sumber kehancuran manusia ada dua, yaitu perasaan putus asa dan perasaan bangga diri. Putus asa berarti sirnanya harapan dan bangga berarti rasa puas, hingga menimbulkan anggapan segala urusan telah tuntas.”

Iman menumbuhkan optimisme, sebab orang mukmin percaya akan rahmat dan pertolongan Allah yang dilimpahkan setiap saat dan di setiap medan usaha. Dia percaya bahwa segala sesuatu diciptakan secara berpasang-pasangan. Adanya siang sebagai pertanda akan datangnya malam. Ketika datang kecemasan maka dia pun optimis akan segera datang pertolongan Allah dalam bentuk keamanan. Ketika derita menghampirinya, dia pun berkeyakinan bahwa rahmat Allah akan menggantikan derita itu dengan kebahagiaan.

Disarikan dari buku : Merasakan Kehadiran Tuhan karya Dr. Yusuf Qardhawi.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *