koleksi pribadi
koleksi pribadi

Akhir-akhir ini, aktifitas siswa semakin beragam. Bukan hanya pada jumlah dan keragaman saja, namun sudah menunjukkan sisi kualitas. Perlu dicermati bahwa muatan kualitas terkadang malah over. Sehingga tidak jarang kita jumpai kasus-kasus yang menjurus kerusakan moral. Akibat yang ditimbulkan bukan hanya destruktif, namun telah merusak tatanan masyarakat yang selama telah terbukti harmoni.
Keprihatinan gejolak yang melanda siswa mendapat perhatian penuh dari Pimpinan Daerah  Muhammadiyah (PDM) dan Wali Kota Yogyakarta. Lebih jauh Ketua PDM, H. Akhid  Widi Rahmanto secara terperinci mengupas perjalanan sejarah Muhammadiyah. Bahwa Muhammadiyah sampai saat ini masih konsisten tujuannya. Muhammadiyah tetap tidak akan pernah kapok untuk mendidik anak bangsa. Sebab ladang garapan Muhammadiyah memang disitu’ yaitu amar makruf nahi mungkar. Meskipun dalam perjalanan pernah mengalami pasang surut. Mengapa hingga kini masih tetap eksis?  Karena Muhammadiyah dirawat oleh masyarakat. Seorang pengasuh bila melihat anak asuhannya berbuat melenceng dari jalan yang semestinya, pastilah akan diingatkan. Dikontrol sesuai dengan porsinya.

Muhammadiyah juga senantiasa mengapresiasi usaha pemerintah dalam menjalankan rodanya. Oleh karenannya Muhammadiyah ikut terpanggil untuk membangun Bangsa dan Negara. Termasuk  dalam penanganan Pendidikan. Sebagai salah satu sektor fundamental dalam menata kehidupan bernegara, pemerintah sangat memperhatikan pendidikan. Ujud dari keterlibatan Muhammadiyah dalam bernegara, yaitu dengan memperhatikan kader. Termasuk diantaranya adalah siswa yang dimiliki Muhammadiyah. Siswa sebagai aset untuk meneruskan perjuangan dalam berbangsa dan bernegara, harus didik sesuai dengan keyakinan Muhammadiyah. Oleh karenannya koordinasi antar sekolah sangat diperlukan. Dengan difasilitasi oleh PDM, pembinaan siswa tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Namun pemerintah dan masyarakat sangat penting untuk mendukung cita-cita seorang siswa yang berakhlak mulia.
Dalam mengelola aktifitas siswa, Wali Kota Yogyakarta tetap mengedepankan pendekatan personal. Dengan pola asuh yang benar diharapkan siswa diantar untuk berprestasi. Dengan pola welas asih yang tepat akan mengurangi atau dapat menekan siswa untuk bertindak merusak. Memang bisa saja Wali Kota menggunakan peraturan-peraturan yang berlaku. Tapi itu semua justru siswa akan digiring ke ranah hukum. Sesuatu yang sebenarnya harus dihindari. Namun gejala kenakalan remaja yang didominasi oleh pelajar melakukan tindakan kriminal sudah tidak bisa ditoleransi. Desakan masyarakat untuk menindak orang yang berbuat onar dan kriminal menjadikan pemerintah dan jajarannya tidak ada pilihan lain kecuali menindak dengan tegas.
Dinas Pendidikan Kota juga membuat regulasi agar sekolah dapat membimbing siswa dengan tegas. Tidak boleh ada pelajar yang keluyuran saat jam belajar di sekolah. Sidak diintensifkan agar pihak sekolah benar-benar siap melaksanakan tugas mendidik tunas bangsa. Unsur masyarakat lewat Dewan Pendidikan sering melakukan dialog dengan pihak-pihak terkait dalam rangka sukses Pendidikan.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *