Penyakit Kejiwaan atau Penyakit Sosial

Ada orang bilang kalau “urat malu” pejabat atau yang sedang menjabat apapun sudah putus. Atau bahasa kunonya sudah tidak punya malu. Beberapa malah bangga bisa masuk berita. Ibarat orang entertainment, ratingnya naik.

Berita, apapun wartanya adalah informasi. Pembuat berita menyampaikan segala sesuatu kejadian untuk disampaikan kepada orang lain. Tanpa mengurangi muatan etika, bahwa informasi apapun berhak untuk diwartakan. Peristiwa bencana, pembunuhan, korupsi, kolusi dll, yang memiliki sifat merugikan selayaknya untuk dikonsumsikan kepada orang lain. Orang yang menerima berita berhak pula untuk menilai peristiwa itu.

Dari gencarnya pemberitaan mengenai penyelewengan uang yang bukan miliknya, timbul sebuah pertanyaan. Apakah masyarakat telah dihinggapi penyakit kejiwaan atau penyakit sosial?

Penyakit kejiwaan bisa menyerang siapapun, karena manusia tidak luput dari segala aktifitas. Berawal dari sebuah keinginan (ini juga alamiah), manusia akan terus mencari hingga yang diidamkan digenggam. Hanya terkadang tidak ada keseimbangan antara keinginan dengan potensi yang dimiliki. Baik potensi fisik dan psikis, maupun potensi cara untuk mendapatkan.

Penyakit kejiwaan disebabkan karena pengaruh emosi. Ia datang dari keinginan yang kuat, cara berpikir yang keliru, sehingga menimbulkan perilaku yang menyimpang dari norma masyarakat.

Menyembunyikan uang orang lain untuk digunakan sendiri, karena desakan kebutuhan adalah penyakit. Perilaku ini dipicu karena ingin dianggap mampu memiliki barang seperti orang lain, atau bahkan melebihi yang dipunyai orang lain. Dengan memiliki barang yang telah diperoleh, maka ia akan dianggap mampu bersaing dengan orang lain. Apapun caranya yang penting telah mendapatkan barang yang diidamkan.

Masyarakat di sekeliling kita adalah masyarakat yang heterogen, setidaknya dari status social. Ada kepala kampung, ada rakyat, kaya-miskin, pandai-trampil, tampan-cantik, itulah perbedaan yang mudah kita dapatkan. Tidak mungkin masyarakat disama ratakan. Dari perbedaan itulah sebenarnya timbul benih persaingan. Kalau orang lain mendapatkan 5, kenapa saya tidak bisa memperoleh 6?

Kalau masyarakat tidak bisa menata perbedaan itu, maka akan timbul penyakit masyarakat. Pekerjaan yang paling awal untuk memperoleh masyarakat yang baik, adalah menata diri sendiri dan keluarga. Masyarakat juga perlu mengatur tatanannya sesuai dengan keinginan dari masyarakat itu, agar tercapai keseimbangan. Keseimbangan hanya bisa dicapai bila telah disepakati aturan yang berlaku. Bila ada seseorang telah melanggar aturan yang ditetapkan, maka akan timbul penyakit sosial.

Jadi penyakit kejiwaan dan sosial, ibarat sebuah mata uang. Satu dan lainnya saling mempengaruhi. Korupsi bisa berkembang, bisa jadi karena masyarakat sudah tidak peduli terhadap perilaku seseorang. Demikian juga sebaliknya, karena aturan yang ada dalam masyarakat begitu renggang, begitu rapuh, maka orang bisa seenaknya memperdayai orang lain tanpa rasa kasihan.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *