Saya mengalami pindah hosting sebanyak dua kali. Perpindahan pertama mengalami kegagalan, dengan ditandai hilangnya semua tulisan. Ternyata isinya belum saya back up. Sedikit trauma, karena tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Setahu saya, pindah hosting itu seperti pindah kos-kosan. Barang-barang harus dibawa ketempat yang baru. Pindah hosting juga begitu, cuma file nya saja yang harus diangkut. Itu tidak saya lakukan.

Berkaca dari pengalaman yang pertama, sebelum memutuskan untuk pindah hosting, data diback up terlebih dahulu. Ada du acara. Cara pertama di backup di hostingnya itu sendiri. Resikonya, hosting jadi berlipat. Cara kedua, dipindah di drive. Metode ini agak aman, karena tidak memakan tempat di hosting.

Ada banyak alasan mengapa pindah hosting. Antara lain : frustasi atau kesal dengan layanan hosting lama. Alasan ini dapat diterima, andai pihak penyewa hosting tidak melayani sesuai dengan harapan. Sebagai user, webnya akan berganti warna, model atau mengembangkan lainnya adalah hal yang wajar. Karena mengalami kendala atau kesulitan, user menanyakan segala sesuatunya kepada penyewa. Namun layanan yang diberikan kurang simpati, meski hanya sekedar bertanya saja.

Penyebab kedua, biasanya terkait budget. Sebagai user tentu pilah-pilih harga yang sesuai dengan kantong. Sama-sama 1 GB, harga penyewa hosting satu dengan lainnya tentu berbeda. Perbedaannya tentu bermacam-macam. User pasti punya pilihan tersendiri.

Ketiga, sensasi. Penyewa hosting menyediakan sarana hosting dengan berbagai macam model transformasi datanya. Ada yang pakai kabel optik, ada yang tetap konvensional. User yang sudah terbiasa dengan cara konvensional, sesekali mencoba dengan kabel optik. Dalam iklannya, kabel ini dapat melakukan migrasi lebih cepat dari cara konvensional. Apalagi bagi user yang ingin performanya cepat. Lebih-lebih para pecinta game.

Saya lebih pas memilih alas an kedua. Dengan budget yang cekak, tapi dapat menyoimpan data seoptimal mungkin. Inilah alasan yang pas buat saya. Saya sudah dua kali mengalami up grage. Ini saya lakukan, karena tempat yang saya sediakan, untuk waktu tertentu tidak cukup. Tingkat up load data cukup dinamis, sehingga saya memilih untuk memperbesar kapasitas penyimpanan hingga dua kali.

Pengalaman yang menarik, yaitu saat perpindahan hosting yang kedua. Saya pikir akan sangat mudah. Tak tahunya sedikit rumit. Karena semua perpindahan ini hampir saya lakukan sendiri. Maka mau tidak mau saya harus mengenal istilah linux yang dipakai di hosting. Inilah yang menyebabkan sedikit hambatan. Namun, alhamdulillah pihak penyewa tidak bosan-bosannya membimbing saya untuk melakukan perpindahan.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *