Promosi Bersandar Dua Kaki

Tulisan berikut ini sebenarnya, saya tulis telah beberapa tahun yang lalu. Kali ini saya edit di beberapa tempat.

Semalam, saya ke toko buku Gramedia dalam rangka mencarikan buku yang dipesan anak saya : “Surat Kecil untuk Tuhan”. Buku yang menceriterakan kisah nyata seorang manusia yang diserang kanker ganas. Tadi malam memang saya tidak seperti biasanya yaitu berlama-lama di ruang buku, karena janjian dengan teman. Maka setelah buku kudapat langsung menuju kasir.

Dinding sebelah kasir terlihat deretan buku yang dipajang berjajar dalam tatanan Top Ten. Ada 10 buku yang ditaruh pada dinding itu, dan diberi nomor urut 1 sampai dengan 10. Cara mengurutkannya sesuai dengan jumlah buku yang terjual. Setiap hari dapat berubah, tergantung nilai jual dari sebuah buku.

Saya melihat buku Habibie dan Ainun nongkrong di top one. Disusul bukunya Jokowi, 5 cm, dan seterusnya. Ada juga bukunya Dahlan Iskan (DI). Semua terlihat dengan jelas deretan buku tersebut, menandakan bahwa saat itu, masyarakat memang sedang gandrung dengan membaca buku otobiografi. Mungkin, kita sedang sangat membutuhkan figure, atau model, atau bagaimana caranya agar bisa sukses.

Dibanding dengan otobiografinya Chairul Tanjung, Dahlan Iskan, ataupun Jokowi, memang saya baru melihat baru kali ini kisah Habibie dan Ainun nangkring di nomor 1. Padahal kalau melihat bulan terbitnya, Habibie dan Ainun sudah lama terbit. Kalau Chairul Tanjung (CT) baru beberapa bulan yang lalu. Demikian juga dengan Jokowi. Apakah ini pengaruh dari promosi yang besar-besaran di media elektronika? Secara kebetulan terbitnya buku Habibie dan Ainun bersamaan dengan pembuatan filmnya.

Buku-buku dari Habibie dan Ainun, Chairul Tanjung, Jokowi, dan Dahlan Iskan, saya telah membacanya. Semuanya inspiratif. Mereka menaklukkan kesuksesan dengan jalan yang berliku dan terjal. Hikmahnya dapat kita petik yang dipat dijadikan cermin. Mereka adalah tokoh dari berbagai keahlian masing-masing.

Buku dan media saling berkolaborasi. Chairul Tanjung didongkrak dengan media televisi Trans. Hampir tiap 15 menit muncul tertayang dibarengi dengan komentar beberapa tokoh. Dahlan Iskan, seorang mantan wartawan tentu tahu betul seluk beluk media cetak. Dia sendiri memiliki beberapa koran, tabloid, bahkan konon kabarnya sekarang sudah memiliki televisi. Jokowi, seorang gubernur yang sangat dekat dengan wartawan. Di detik.com malah tiap hari selalu terekspos aktifitasnya. Habibie, siapa yang tak kenal dengan beliau. Sampai hari ini belum tergantikan  kepiawaian teknologinya.

Berjuta orang berduyung-duyung menyaksikan kisah cinta Habibie dan Ainun dalam membina rumah tangga yang dapat menjadi inspirasi. Laki-perempuan saling membutuhkan. Saling mengisi untuk menuju kesempurnaan. Tak ada yang lebih tinggi, pun tak ada yang lebih rendah. 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *