Refleksi (Tafakkur)

Ramadhan tahun 1441 H hari tigabelas

Luqman al-Hakim adalah sosok yang bijaksana. Kisahnya diabadikan dalam Alquran sebagai ayah yang menanamkan ketauhidan kepada anaknya. Bukti kebijakannya dalam menasihati menjadikan namanya diabadikan menjadi nama salah satu surah dalam Alquran.
Salah satu kunci kebijaksanaan Luqman adalah kegemarannya menyendiri. Bagi Luqman, duduk lama menyendiri bukanlah berkhayal dan panjang angan-angan. Duduk menyendiri yang paling bermanfaat adalah tafakur, merenung.

Tafakur mengandung arti memikirkan, merenungkan, mengingat Allah melalui segala ciptaan-Nya yang tersebar di langit dan bumi, dan bahkan yang ada dalam diri manusia sendiri. Tujuan tafakur adalah menumbuhkan kesadaran di dalam diri tentang kekuasaan, kebesaran, dan keagungan Allah dalam setiap objek ciptaan-Nya.

Di dalam tafakur terkandung proses penyingkapan Nama-nama Allah yang Maha indah, al asma’ al husna. Penyingkapan ini akan menambah makrifat (pengetahuan) tentang Sifat-sifat dan Nama-nama Allah.

Salah satu cara yang efektif untuk menjernihkan hati dan kesadaran adalah dengan tafakkur. Hati yang selalu merefleksikan diri adalah ciri penting yang melekat pada mereka yang berakal pikiran atau berpengertian. Mereka ini adalah kelompok orang yang berusaha memahami hakikat, makna, ataupun arti dibalik segala peristiwa yang berlangsung di sekeliling kehidupannya.

Surat Ali Imran 3 : 191, artinya : “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.
Semua itu tidak lain dimaksudkan untuk menjernihkan dan mempertajam kesadaran atas hakikat kehidupan, serta membangkitkan semangat menempuh kehidupan yang lurus dan bersih.

Tafakur adalah terminal pemberhentian sementara. Merenungi ciptaan Allah dalam bentuk manusia papa akan membangkitkan energi kesyukuran kita kala melihat ke bawah. Memikirkan bintang kemintang nan luas akan menghapuskan kebesaran rasa sombong kita. Membaca ayat-ayat Allah yang tersurat akan meluruskan niat-niat jahat yang terselip. Semua itu akan bermuara pada sebuah energi kebangkitan, energi untuk melanjutkan perjalanan pulang. Ia bisa berupa sabar yang mengakar, syukur yang berdebur, dan total dalam amal.

Sumber bacaan : Spritual Manajemen karya Sanerya Hendrawan, Ph. D

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *