Sejak pandemi meluluhlantahkan di semua sendi kehidupan, seakan dunia ini berhenti. Hampir semua orang hanya berada di rumah. Jalanan menjadi sepi. Mall, pasar, dan semua tempat orang berkumpul menjadi sunyi. Aktivitas kehidupan menjadi merana. Tak ada lagi kegiatan yang saling bantu, saling bersaing, bahkan saling intimidasi. Otak dipaksa untuk berfikir, bagaimana caranya agar pekerjaan tetap berjalan tanpa harus keluar rumah, karena pembatasan mobilitas manusia.

Di sektor pendidikan, kegiatan rutin yang harus dilakukan yaitu dengan belajar daring. Semua pembelajaran dilakukan melalui melalui tatap maya. Tiba-tiba, semua komponen yang terlibat langsung dengan pendidikan dilakukan dengan online. Disinilah muncul permasalahan. Orang yang tadinya tidak peduli dengan perangkat komputer, seketika harus belajar aplikasi pembelajaran jarak jauh. Orang yang semula hanya mengandalkan pertemuan secara langsung, seketika dihentikan dan harus melakukannya dengan tatap maya.

Meski terlambat, namun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) cukup cekatan mengantisipasi pembelajaran daring. Bekerja sama dengan google, Kemendikbud mengeluarkan sebuah aplikasi untuk menambah daya dobrak Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), yaitu aplikasi belajar.id. Sebuah mesin pintar untuk membantu aktifitas belajar.

Belajar.id ini cukup bagus, karena hanya dengan satu pintu, pemakai akan mendapatkan banyak fasilitas penunjang belajar. Pemakai akan memperoleh ruang penyimpanan yang tak terbatas. Biasanya hanya 15 M lewat gmail. Pengguna belajar.id, juga akan menemukan beberapa aplikasi lain seperti classroom, google site, bahkan konverensi dengan menggunakan google meet.

Belajar.id ini wajib digunakan oleh insan pendidikan. Nanum di lapangan, terlihat tergopoh-gopoh. Bukan hanya di kalangan guru atau pemangku kepentingan, namun hambatan juga ditemui siswa. Dalam pantauan kami, beberapa hambatan yang dijumpai antara lain.

Pertama, Tidak semua siswa familier dengan gadget. Masih saja ditemui beberapa siswa kesulitan menggunakan gawai. Disinyalir siswa tersebut memang jarang menggunakan lantaran tidak memiliki, atau dalam satu keluarga hanya ada satu alat gawai. Sehingga penggunaannya secara bergiliran. Keterbatasan menggunakan gadget inilah, yang manjadikan siswa terlihat lamban.

Kedua, abai terhadap informasi. Mungkin ini yang disebut efek banjir informasi. Dalam sehari, berapa ribu informasi yang masuk ke gawai. Mulai dari yang penting sampai yang hoax. Membanjirnya informasi seperti ini yang menyebabkan penerima tidak mampu memilah. Pengumuman yang datang dari sekolah (mestinya ini sangat penting karena terkait dengan pembelajaran) tidak menjadi perhatian. Akun belajar.id yang telah dibagikan kepada siswa dalam bentuk sebuah kartu tidak disimpan. Akibatnya siswa lupa.

Ketiga, aplikasi yang ada dalam belajar.id belum semuanya terinstall. Meskipun guru telah memberi materi dan telah disharing, namun karena aplikasi belum ada, maka file hanya seonggok file saja. Pemilik akun mestinya harus menginstall aplikasi sesuai kebutuhan.

Itulah beberapa permasalahan yang dihadapi oleh guru, terkait dengan sosialisasi belajar.id. masih banyak permasalahan teknis yang harus dibenahi agar akun belajar.id dapat bermanfaat secara optimal.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *