Selipkan Tertawa dalam Setiap Berkarya

Hari jum’at minggu lalu saya melayat istri dari mantan kepala sekolahku. Kebetulan anak beliau juga sama-sama seangkatan meski beda kelas. Praktis ada dua orang yang kenal baik dengan saya, kepala sekolah dan anaknya.

Saya termasuk yang kagum dengan beliau. Meniti karier di dunia pendidikan sukses. Berkiprah di ranah politik sukses. Mengabdi dalam organisasi masyarakatpun juga bagus. Sehingga tidak salah apabila saya mengidolakan beliau. Sampai sekarang saya belum sempat bertukar pikiran dengan beliau tentang kiat memperoleh kesuksesan dalam ladang yang berbeda-beda.

Bertemu dengan kawan lama memang mengasyikkan. Selalu ada piringan hitam yang bisa diputar untuk mengingat kembali pada masa masih pelajar. Kebetulan sewaktu saya mengobrol dengan rekan saya itu, ada seorang yang dulunya menjadi adik kelas bergabung dengan kami. Meskipun junior saya, tapi persahabatan kami cukup kental, karena dulu sama-sama di organisasi pelajar. Sehingga kekerabatan tak terbatas pada hubungan kakak-adik, namun menuju jalinan lebih emosional. Suka duka menggerakkan organisasi inilah simpul perkawanan lebih kental.

Cukup kaget juga, sewaktu dia bilang sudah dua minggu terakhir tergeletak tak berdaya di rumah karena sakit. Sakitnya sendiripun cukup aneh. Dokter bilang tidak ada gangguan fisik yang cukup mengganggu untuk beraktifitas. Tapi yang dia rasakan lemas disekujur badan. Memang setelah dua tahun berjalan ini, dia ditugasi di kantor. Tidak lagi kerja di lapangan. Saat masih di lapangan, dia terlihat bugar. Tidak ada wajah sedikitpun rasa lelah. Adanya Cuma senang dan senang sekali. Ini terlihat candanya yang renyah kala ngobrol bareng.

Saya simpulkan sementara bahwa mantan juniorku itu cuma kurang tertawa. Setiap pekerjaan yang dia selesaikan selalu selesai tapi diliputi dengan ketegangan. Tak ada sedikitpun humor yang keluar dari mulutnya. Nampaknya dia lebih enjoy kalau mengabdi di luar kantor. Meskipun resiko kepanasan atau kehujanan, tapi hati senang. Sesuai yang diharapkan.

Ternyata tertawa itu menyehatkan. Bahkan sebagian yang lain mengatakan bahwa ketawa menyembuhkan. Budayakan dalam beraktifitas apapun selipkan tertawa. Selalu tersenyum bila berpapasan dengan orang lain. Sudah banyak orang mengetahui tentang khasiat tersenyum. Dari sekian manfaat dari tertawa, saya menambahkan dua lagi.

  1. Sesekali mengeringkan gigi

Apa perbedaan dan persamaan orang yang masih bergigi dengan orang yang sudah ompong? Perbedaanya pada jenis makanan. Orang yang masih bergigi utuh, makan apapun pasti bisa menelan. Bagi yang sudah tidak bergigi lagi, hanya jenis makanan tertentu saja yang bisa dikunyah. Adapun persamaannya adalah keduanya bisa tertawa.

Saat tertawa, gigi bisa terlihat dengan jelas. Mulut dalam keadaan terbuka dan memungkinkan mengeringkan gigi. Bila gigi kering makan diproduksilah air ludah sebanyak-banyaknya untuk melakukan perendaman terhadap gigi yang terkena teriknya udara.

  • Mengurangi bahaya penyakit stroke

Banyak yang bilang kalau stroke banyak disebabkan karena hati yang lebih banyak kecewanya. Bisa dibayangkan bila hati sedang kecewa. Hal ini tampak dari kerut wajahnya. Orang kecewa cenderung mengkerutkan syaraf muka. Sementara orang tertawa justru melonggarkan anatomi wajah. Jadi banyak-banyaklah tertawa, sebelum penyakit hinggap ditubuhmu.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *