Sharing Model Pembelajaran dimasa Covid-19 (1)

Diikuti oleh sekitar 80 peserta, video conference (vicon) yang diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kota Yogyakarta, berakhir dengan rasa kegembiraan. Ada perbedaan sedikit model pembelajaran di beberapa negara dengan model yang ada di tanah air. Perbedaan ini membawa anugerah bagi pendidik di manapun berada. Bahwa misi dari pembelajaran adalah harus membawa perubahan.

Nara sumber yang berasal dari lima negara ini, membawakan dengan penuh rasa syukur dan khidmat. Berikut kami rangkumkan materi yang disampaikan oleh :

Ibu Ponco Handayawati, M. Pd. (S.I. Den Haag, Belanda)

Suasana pembelajaran pada masa pandemic corona ini tak jauh berbeda dengan negara-negara yang terdampak virus yang bisa mematikan. Keganasan covid19, memaksa manusia untuk menata ulang tata cara kehidupannya. Di Belanda sendiri, virus ini cukup ganas. Pandemic yang telah merenggut lebih dari lima ribu orang, menyebabkan beberapa sisi kehidupan menjadi lumpuh. Interaksi antar manusia menjadi terbatas. Semua fasilitas public tertutup untuk diakses, tak terkecuali dalam dunia pendidikan.

Sekolah Indonesia yang berada di Den Haag, dalam melakukan pembelajaran jarak jauh sebenarnya sudah cukup lama terutama pada jenjang SD. Yaitu sudah terlaksana pada tahun 2008. Untuk tingkat SMP dan SMA sudah dimulai dari bulan Oktober 2017.

Di sekolah ini, dari TK sampai SMA berada pada satu lokasi dengan jumlah siswa kurang lebih 110 anak. Ada keuntungan tersendiri, manakala komunitas pendidikan ini berada pada satu tempat. Koordinasinya cepat, pemakian fasilitasnya bersama, komunikasi bisa dilakukan dengan tatap muka. Namun demikian, mulai 1 Juni 2020, sekolah jarak jauh tetap harus dilakukan menyusul larangan berkumpul dari pemerintah setempat. Pembelajaran online dengan memakai skype, mengingat jumlah siswa tidak terlalu banyak. Kurikulum yang dipakai gabungan antara kurikulum 2013 dengan kebijakan pendidikan setempat.

Sirkulasi gerak terbatas, menyebabkan manusia menjadi kreatif. Di sebuah restaurant, terlihat gubug-gubug yang terbuat dari plastic dengan tujuan agar interaksi dengan orang lain tidak terjadi kontak secara langsung. Demikian pula untuk pengajar. Mereka dituntut untuk menguasai teknologi informasi untuk menjalankan misi mengajar jarak jauh. Di Den Haag, masyarakatnya sudah maju. Penggunaan fasilitas komunikasi sudah canggih, sehingga aktifitas pembelajaran lewat online hamper tidak ditemui masalah yang cukup berarti.

Ibu Nur Fitriyah, S.Pd. (S.I Cairo, Mesir)

Di negerinya Fir’aun, kegiatan pembelajaran hampir sama dengan negara lain. Pyramid dan Spynk sebagai pemilik sah di Mesir, yang sudah meninggal akibat pandemic corona telah mencapai hampir lima ratus orang. Sebagai negara yang terdampak covid-19 melakukan lock down. Mereka melakukan pembatasan gerak masyarakat lebih ketat bila dibandingkan dengan Indonesia.

Dr. Tarek Shawky, sebagai Menteri Pendidikan, dengan tegas mengumumkan bahwa study di Mesir semuanya ditangguhkan sampai waktu yang belum ditentukan. Sekolah Indonesia di Kairo, yang berdiri sejak tahun 1961 ikut terkena aturan tersebut. Akibatnya pembelajaran dilakukan dengan cara jarak jauh. Penggunakan seperangkat lunak seperti whatsapp, google form, Microsoft team, adalah yang layak digunakan oleh guru dan siswa.

Di Kairo, tarif internet lebih mahal bila dibandingkan dengan tanah air. Jumlah siswa dari TK sampai SMA sebanyak 108 siswa. Mereka berinteraksi dengan guru dengan menggunakan peralatan gadget. Tidak semua orang tua memiliki alat tersebut. Akibatnya ada kebijakan khusus bagi siswa yang tidak mempunyai prasarananya.

Presensi siswa dan guru dengan menggunakan google form. Mereka tidak hanya memanfaatkan untuk presensi saja. Tapi digunakan juga angket yang dilakukan seminggu sekali. Sehingga anatara guru dan siswa, setiap minggu melakukan evaluasi. Bahkan setiap minggu, seorang guru harus melakukan umpan balik, sampai seberapa daya serap siswa dapat diperoleh. Setiap minggu pula, wali kelas wajib berkomunikasi dengan orangtua tentang perkembangan anaknya. Hasil itu akan digunakan untuk bahan evaluasi secara menyeluruh. (bersambung)

Nara Sumber:

1.Ponco Handayawati, M.Pd (S.I.Den Haag)

2. Nur Fitriyah, S.Pd (S.I.Cairo)

3. Inrayati Atjo, M.Pd (S.I.Bangkok)

4. Nelly Yuliana, M.Pd. (S.I.Jeddah)

5.R.R Septriwi Antarsari, S.Pd, M.M (S.I.Yangon)

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *