Sore di Santosa

Berliku-liku mengikuti alur MRT (mass rapid transit) di Singapura. Harus pandai membaca denah. Jarang sekali orang bertanya kepada orang lain saat kebingungan mencari arah tujuan. Jangankan bertanya. Orang sudah asyik dengan dunianya sendiri. Tak banyak cakap antar orang  meski berdampingan. Ditunjang dengan teknologi gadget. Lengkap sudah kesendirian.
Jadi mesti cermat membaca denah. Harus jeli terhadap setiap informasi yang ditempel hampir semua dinding. Baca dengan takzim arus lalu lintas.  Namun agar tidak sesat bermukalah yang bebal supaya tak terjerumus di belantara metropolitan.
Sebagaimana turis udik, yang pertama dituju pasti singa muntah atau Marlion Park. Wisatawan belum sah jikalau belum selfi dengan berlatar belakang  singa. Kawasan yang wajib dikunjungi diseputaran Fullerion road atau lebih gampangnya Marina Bay.
Setelah puas betendam diri dibawah terikan  matahari, tiba saatnya menuju kawasan Sentosa. Kali ini moda yang digunakan bis kota. Menyusuri jalanan yang kuanggap sepi untuk ukuran sebuah kota metropolitan. Kawasannya bersih. Pengguna jalan rayanya sesuai dengan porsi masing-masing dengan menempatkan pejalan kaki bak raja. Sesekali kupandang bahwa Singapura memang selalu berubah tapi tidak memperkosa lingkungan hidup. Justru alam dimuliakan. Pohon dibikin serindang mungkin. Rumput menghampar menghijaukan bumi. Sampah tak dibiarkan tergolek bukan pada tempatnya.
Santosa ibarat kota dalam kota. Mempercantik diri bersolek bak bidadari yang menunggu pinangan pangeran. Arena betmain namun tak sekedar main-main. Didalamnya ada konsep keterpaduan antara alam dan lingkungan. Arena bermain tapi sekaligus belajar. Sehingga ada keteraturan dengan tidak saling sikut, injak. Harmoni yang didendangkan membuat kerasan hidup di dalamnya.
Kalau arena hiburan bolehkah Trans Studio Bandung atau Makassar bisa bersaing. Sehingga saya tidak begitu kaget dengan aneka ragam permainan dan souvenir yang mahal. Disatu sisi Trans Studio boleh bangga karena kulinernya lebih komplit. Kalau lainnya saya boleh bilang sama saja. Karena filosofi modern bisa betangkat bersama-sama bila ada investor. Tinggal bagaimana cara mengemas sehingga orang lain merasa tertarik dan terhibur, sebagaimana anjungan di sebuah pantai. Tidak sekedar modern, tapi kreatifitas manusia unggul. Sebuah pertujukan sinar laser yang dikemas dalam bentuk seni, betkolaborasi dengan kecanggihan seni animasi. Bagaimana sebuah seni pertujukan layaknya bioskop tapi medianya adalah air. Air bisa dibuat apa saja karena telah dipadukan dengan sinar laser.
Santosa belum akan betakhir dalam mewujudkan diri. Ia terus bergulir. Ia terus berbenah diri sebagai sebuah konsep kota dalam kota tapi lebih menonjolkan dalam wisata.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *