Zuhud dan Keseimbangan Alam

Hari keenambelas ramadhan 1442 H

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.” (QS al A’raf : 56).

Tindakan sewenang-wenang terhadap makhluk hidup lainnya, merupakan Tindakan yang tidak terpuji. Sebab mereka sama seperti kita, yaitu memiliki hak hidup. Kondisi bumi yang kian memprihatinkan mendorong perlunya upaya penyelamatan yang mendesak. Dalam konsep Islam, alam memang dipergunakan untuk kehidupan manusia dan makhluk lain yang memerlukan. Alam ini diciptakan untuk makhluk agar memiliki keturunan.

Dorongan untuk pengambilan sumber daya alam yang tidak terkendali bersuber dari hawa nafsu yang berlebihan. Dorongan inilah yang kemudian membuat sebagian orang menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Karena itu, Abu Hasan al-Mawardi menyebutkan, “Adapun hawa nafsu merupakan penghalang bagi kebaikan dan penentang akal pikiran, darinya timbul akhlak yang buruk dan pekerjaan yang hina sehingga membuat reputasi orang menjadi rusak dan jalan menuju kejahatan menjadi lancar.”

Kerakusan dan perusakan yang dilakukan manusia harus dicegah. Zuhud menjadi salah satu solusinya. Zuhud adalah sikap mendahulukan urusan Tuhan dan kemanusiaan daripada urusan duniawi pribadi dan kelompok. Zuhud bukan anti kekayaan dan identik dengan kemiskinan, melainkan sikap menjauhi sifat serakah. Keserakahan dalam mengeksploitasi alam sering menjerumuskan manusia kepada kebinasaan dan kerusakan alam karena sikap yang tidak ramah lingkungan.

Imam al-Ghazali menguraikan bahwa zuhud itu adalah sikap kapabilitas manusia. Jika seseorang sudah tidak mengejar kesenangan dunia, hatinya tidak lagi berhasrat untuk meraih kesenangan dunia, dan hanya rida Allah yang akan diraihnya, maka Ia telah memiliki sikap zuhud.

Jika zuhud sudah menjadi kesadaran, ia merasa tiada guna dan manfaatnya melakukan eksploitasi alam secara basar-besaran untuk mendapatkan keuntungan tanpa mementingkan akibat yang terjadi dari kegiatan tersebut. Sebab, pada kenyataannya, hal paling didambakan setiap orang adalah ketenangan batin. Hidup kian terasa tidak nyaman manakala batin semakin menderita.

Eksploitasi alam alam secara besar-besaran untuk menghasilkan keuntungan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan, sejatinya bisa diatasi dengan kesadaran-kesadaran diri bahwa kenikmatan hakiki bukan pada harta benda yang berlimpah, melainkan pada kekayaan hati. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Kekayaan itu bukan disebabkan banyaknya harta, melainkan pada kekayaan jiwa.” (Hadis Mutafaq ‘alaihi dari Abu Hurairah RA).Sedangkan, kekayaan jiwa muncul tiada lain kembali pada konsep zuhud yang telah disebutkan tadi.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *