Jum'at Berkah
Surat
al Isra’ ayat pertama adalah informasi inti dari perjalanan Rasulullah SAW dari
Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian Allah memperkenankan beliau untuk
naik ke Sidratul Muntaha, dalam waktu semalam.
Pada
ayat tersebut, Allah mengawali firmannya dengan kata Subhana, untuk
menunjukkan informasi suatu peristiwa yang luar biasa. Demikian hebatnya
peristiwa tersebut, sehingga hal ini hanya dapat terlaksana karena iradah dan
Qudrah (kehendak dan kekuasaan) Allah semata.
Asra’
artinya
sama dengan Sara’ yaitu perjalanan di waktu malam hari. Secara tersirat,
perjalanan tersebut dilakukan oleh Allah terhadap hamba-Nya, Muhammad. Artinya,
bahwa hijrahnya kekasih-Nya bukan perjalanan biasa. Ada misi khusus yang hendak
disampaikan kepada baginda Rasul. Meskipun sebenarnya Allah dapat saja menyampaikan
wahyu melalui media seperti biasanya. Hal ini menunjukkan cara Allah untuk
membuktikan sejauh mana keimanan hamba-Nya.
Menjadi
menarik untuk dikupas lebih dalam tentang kepergian Rasulullah dari langit
pertama hingga mencapai langit ke tujuh. Yang dimaksud dengan “Tujuh Langit”
pada kisah ini, bagi sebagian orang, diduga bukan langit fisik yang berupa
benda-benda langit. Mereka menganggap sebagai langit non fisik.
Belum
ada kesepakatan tentang arti tujuh langit. Tafsir al Maraghi menyebutkan
bahwa tujuh langit tersebut adalah tujuh planet dalam tata surya kita.
Sementara Hamka, dalam Tafsir al Azhar, mengartikan tujuh adalah untuk
menunjukkan adanya benda-benda langit yang sangat banyak jumlahnya.
Peristiwa
Isra’ Mi’raj ini, memang kita mendapat pelajaran yang berharga. Hijrahnya
Rasulullah dapat berupa perjalanan fisik dan non fisik. Kasus secara fisik
misalnya, perjalanan dari Mekah ke Palestina. Peristiwa ini dapat dibuktikan
sebagaimana kafilah melakukan perjalanan di gurun pasir saat itu. Tentang
kecepatan, wallahu a’lam.
Di
samping itu, banyak juga dijumpai kisah-kisah yang mengandung unsur non fisik.
Sebagai contoh, perjalanan beliau bersama dengan malaikat Jibril. Pertemuan
beliau dengan beberapa Nabi, dan melihat Sidratul Muntaha yang tidak ada
penjelasan kondisi dan lokasi fisiknya.
Perihal
Isra’ Mi’raj ini lebih tepat dimaknai sebagai perjalanan antardimensi. Hal yang
demikian ini karena ada fenomena fisik yang kita kenal dalam dimensi ruang dan
waktu.
Sumber
bacaan: Penciptaan Jagat Raya dalam Perspektif al Qur’an dan Sains, Kementerian
Agara RI
Posting Komentar untuk "Isra’ Mi’raj: Tinjauan Sains"