Abu Bakar Ash-Shidiq (2)

 Jum'at Berkah

Setelah Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul, maka Allah tidak akan membiarkan Nabi Muhammad SAW bekerja sendirian. Allah telah memilih orang terbaik untuk menopang perjuangan beliau, khususnya Abu Bakar Ash-Shidiq dan Umar bin Khattab. Kepada beliau berdua, Allah berkenan mempertebal keimanan dan ketaqwaan. Diberi ilmu yang mumpuni, serta dihiasi kharisma.

Sepak terjang Abu Bakar sendiri, sewaktu menjadi khalifah, selalu didampingi Umar bin Khattab. Sebagai teman, Umar dianggap sebagai tangan kanan sekaligus penasehat dalam setiap akan memutuskan segala sesuatu.

Selain Umar bin Khattab, Allah memilih seseorang yang gagah berani, ahli militer dan juru taktik, yakni Khalid bin Walid, yang dijuluki sebagai Sayf Allah al Maslul atau pedang Allah yang terhunus. Khalid sendiri juga sahabat Nabi Muhammad SAW. Ia menjadi panglima militer sejak Rasulullah hingga Umar bin Khattab.

Ayah Khalid adalah Walid bin al Mughirah, kepala suku Bani Makhzum, yang menjadi bagian dari Bani Quraisy di Mekah. Sesuai dengan tradisi kaum Quraisy pada zaman itu, Khalid yang baru lahir dikirim ke sebuah suku Badui di gurun. Ia dirawat oleh ibu angkat hingga berumur 5 atau 6 tahun, sebelum dikembalikan ke orang tuanya di Mekah. Khalid termasuk dalam keluarga dekat Nabi. Karena, bibinya yang bernama Maimunah adalah salah satu istri Nabi.

Salah satu tantangan yang dihadapi Rasulullah adalah munculnya nabi-nabi palsu. Kehadiran nabi palsu ini berasal dari tempat yang jauh dari Mekah dan Madinah, seperti Yamamah dan Yaman. Mereka memproklamirkan diri sebagai nabi untuk mendapatkan jalan pintas meraih kekuasaan, kepemimpinan dan menguasai kabilah-kabilah di sekitar mereka, seperti Aswad al Ansi.

Aswad yang dijuluki Dzul Khimar, tak lain hanyalah seorang dukun dan Ahli sulap. Dia sering mempertontonkan keahliannya hanya untuk mendapatkan legitimasi dari masyarakat. Aswad mengaku nabi, ketika Rasulullah SAW sedang sakit. Menghadapi gangguan seperti ini, Rasulullah melakukan diskusi dengan sahabat kepercayaannya, seperti Abu Bakar, dan menyerahkan secara teknis kepada sahabat-sahabatnya.

Abu Bakar sebagai salah satu tangan kanan Rasulullahpun memimpin perundingan dengan kawan-kawan, bagaimana cara yang terbaik menumpas orang yang mengaku nabi palsu. Ditunjuklah Wabar bin Yuhnas al Azdi untuk membawa surat dari Rasulullah, yang ditujukan kepada kaum Muslimin yang ada di Hadramaut. Setelah membaca surat dari Rasulullah, maka kaum Muslimin mendapat asupan motivasi yang tinggi, untuk menyingkirkan Aswad. Dengan berbagai strategi, maka Azwad pun terbunuh di tangan Fairuz dan Dadzawaih, yang justru mereka berdua adalah pembantu loyalnya Aswad sendiri.

Inilah kepemimpinan Abu Bakar Ash Shidiq dalam merancang strategi, yang sudah tentu dibantu oleh teman-temannya.
Bahan bacaan: Buku Abu Bakar Ash-Shidiq karya Muhammad Ridha.

Posting Komentar untuk "Abu Bakar Ash-Shidiq (2)"