Jum'at Berkah
Setelah Nabi Muhammad SAW
diangkat menjadi Rasul, maka Allah tidak akan membiarkan Nabi Muhammad SAW
bekerja sendirian. Allah telah memilih orang terbaik untuk menopang perjuangan
beliau, khususnya Abu Bakar Ash-Shidiq dan Umar bin Khattab. Kepada beliau
berdua, Allah berkenan mempertebal keimanan dan ketaqwaan. Diberi ilmu yang
mumpuni, serta dihiasi kharisma.
Sepak terjang Abu Bakar
sendiri, sewaktu menjadi khalifah, selalu didampingi Umar bin Khattab. Sebagai
teman, Umar dianggap sebagai tangan kanan sekaligus penasehat dalam setiap akan
memutuskan segala sesuatu.
Selain Umar bin Khattab,
Allah memilih seseorang yang gagah berani, ahli militer dan juru taktik, yakni
Khalid bin Walid, yang dijuluki sebagai Sayf Allah al Maslul atau pedang
Allah yang terhunus. Khalid sendiri juga sahabat Nabi Muhammad SAW. Ia menjadi
panglima militer sejak Rasulullah hingga Umar bin Khattab.
Ayah Khalid adalah Walid
bin al Mughirah, kepala suku Bani Makhzum, yang menjadi bagian dari Bani
Quraisy di Mekah. Sesuai dengan tradisi kaum Quraisy pada zaman itu, Khalid yang baru
lahir dikirim ke sebuah suku Badui di gurun. Ia dirawat oleh ibu angkat hingga
berumur 5 atau 6 tahun, sebelum dikembalikan ke orang tuanya di Mekah. Khalid
termasuk dalam keluarga dekat Nabi. Karena, bibinya yang bernama Maimunah
adalah salah satu istri Nabi.
Salah satu tantangan yang dihadapi Rasulullah adalah
munculnya nabi-nabi palsu. Kehadiran nabi palsu ini berasal dari tempat yang
jauh dari Mekah dan Madinah, seperti Yamamah dan Yaman. Mereka memproklamirkan
diri sebagai nabi untuk mendapatkan jalan pintas meraih kekuasaan, kepemimpinan
dan menguasai kabilah-kabilah di sekitar mereka, seperti Aswad al Ansi.
Aswad yang dijuluki Dzul Khimar, tak lain hanyalah
seorang dukun dan Ahli sulap. Dia sering mempertontonkan keahliannya hanya
untuk mendapatkan legitimasi dari masyarakat. Aswad mengaku nabi, ketika
Rasulullah SAW sedang sakit. Menghadapi gangguan seperti ini, Rasulullah
melakukan diskusi dengan sahabat kepercayaannya, seperti Abu Bakar, dan
menyerahkan secara teknis kepada sahabat-sahabatnya.
Abu Bakar sebagai salah satu tangan kanan Rasulullahpun
memimpin perundingan dengan kawan-kawan, bagaimana cara yang terbaik menumpas
orang yang mengaku nabi palsu. Ditunjuklah Wabar bin Yuhnas al Azdi untuk
membawa surat dari Rasulullah, yang ditujukan kepada kaum Muslimin yang ada di
Hadramaut. Setelah membaca surat dari Rasulullah, maka kaum Muslimin mendapat
asupan motivasi yang tinggi, untuk menyingkirkan Aswad. Dengan berbagai
strategi, maka Azwad pun terbunuh di tangan Fairuz dan Dadzawaih, yang justru
mereka berdua adalah pembantu loyalnya Aswad sendiri.
Inilah kepemimpinan Abu Bakar Ash Shidiq dalam
merancang strategi, yang sudah tentu dibantu oleh teman-temannya.
Bahan bacaan: Buku Abu Bakar Ash-Shidiq karya Muhammad Ridha.
Posting Komentar untuk "Abu Bakar Ash-Shidiq (2)"