Apologetik-Hipokrit

Secara etimologi, Apologetik berasal dari kata Yunani Kuno, yang berarti pembelaan. Dalam Agama Katolik, dimaknai usaha pembelaan iman Katolik. Yaitu, cara untuk memahami, menjelaskan dan mempertahankan iman katolik dengan memberi jawaban yang rasional.

Apologetik Kekristenan berlangsung di sepanjang waktu. Mulai dari masa Paulus dari Tarsus, Yustinus Martir, sampai zaman Islam, bahkan sampai sekarang.

Hipokrit dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan munafik atau orang yang suka berpura-pura. Lawan katanya adalah Integritas. Dalam Bahasa agama sering disebut nifak. Integritas sering dikaitkan dengan kejujuran dan etika yang tinggi dalam perkataan dan Tindakan sehari-hari.

Masyarakat sekarang, banyak yang bertanya tentang keberadaan Tuhan, kebenaran kitab suci, dan lain-lain. Apologetik hadir untuk menjawab persoalan yang pelik, namun masuk akal. Apologetik juga berperan menyebarkan kebenaran agama kepada orang lain.

Di tengah maraknya pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran agama, apologetik menjadi benteng pertahanan yang penting.

Agama Islam juga tidak terlepas dari usaha-usaha untuk meruntuhkan keimanan. Sebagai contoh dalam Perang Tabuk (perang terakhir). Rasulullah menyebutkan Jaisyul ‘Usrah (pasukan penuh kesulitan). Perang ini dialami oleh tentara muslim pada saat logistik sangat minim, musim paceklik, medan perang yang jauh (berjarak 778 km dari kota Madinah) dan dana negara yang minim.

Perjuangan dalam situasi demikian, menjadi filter yang alamiah. Siapa pejuang sejati, dan siapa yang menyembunyikan kemunafikan (hipokrit). Para pecundang akan menyusun narasi yang sarat rasionalisasi dan pembelaan diri untuk tidak terlibat dalam perjuangan itu

Posting Komentar untuk "Apologetik-Hipokrit"