Membangkitkan semangat
berliterasi bukanlah pekerjaan sebuah lembaga, institusi ataupun negara.
Literasi merupakan tanggung jawab individual. Keluarga merupakan pemantik
membudayakan berliterasi. Daya dorong membudayakan membaca dan berhitung
senantiasa digelorakan oleh kekuatan keluarga.
Marilah kita lihat
sejenak perjalanan perjalanan revolusi industri yang mampu mengubah wajah
dunia. Perjalanan sejarah yang diawali dari perubahan literasi. Revolusi
pertama, dengan ditemukannya memproduksi barang, seperti diciptakannya mesin
uap. Di ranah transportasi, muncul kereta api. Di bidang industri terjadi pembiasaan
mekanisme, yang meliputi pergantian dari tenaga tangan manusia menjadi
otomatisasi mesin. Dampak dari perubahan ini, kwantitas pabrik menjadi
berlipatnya produk barang. Perusahaan-perusahaan berbondong-bondong melakukan
otomatisasi yang digerakkan oleh mesin.
Revolusi kedua, terjadi
pada akhir abad ke Sembilan belas atau awal abad ke dua puluh. Pada masa ini
pembangkit tenaga listrik mulai beroperasi. Dunia menjadi lebih terang.
Pekerjaan tidak hanya dilakukan pada pagi hingga sore, namun dapat dilakukan
dua puluh empat jam. Produk yang dihasilkan seperti mengalir tiada henti.
Pesawat telepon mempermudah komunikasi antar daerah. Kurir pos atau semacamnya
meredup. Komunikasi dapat dilakukan saat itu. Pekerjaan menjadi semakin cepat
dieksekusi.
Tahun 1960-an, komputer
ditemukan. Tahun inilah, revolusi benar-benar disatukan oleh sebuah kotak ajaib
yang bernama komputer. Semua temuan masa silam, telah dirangkum, dan ditangani
oleh komputer. Masa inilah orang menyebut revolusi ketiga. Industri berbasis
elektronik menjadi berjaya. Komputer telah menuntun manusia, kemana arah
kebudayaan manusia, kemana arah berikutnya. Apalagi janin internet telah lahir.
Perindustrain semakin merambah kemana-mana.
Revolusi keempat, atau
lebih kondang disebut era revolusi 4.0. Dekade kedua abad di abad ke dua puluh
satu berpotensi meningkatnya kualitas kehidupan masyarakat di dunia. Penyebaran
internet makin massif. Teknologi digital berkembang sangat pesat yang
melahirkan industry berbasis digital. Semua sisi kehidupan manusia disentuh
oleh tangan digital. Penyediaan big data menjadi kewajiban, untuk menampung
sirkulasi data yang semakin meraksasa.
Apakah runtutan revolusi
di atas bangsa kita berperan aktif? Atau dengan kata lain, apakah Indonesia
memerankan yang penting dalam perputaran pergantian revolusi? Jawabannya sangat
mudah. Tidak. Satu hal penyebab utamanya, karena literasi belum menjadi peranan
yang penting dalam kehidupan. Budaya membaca, menulis, berhitung dan memecahkan
masalah, masih menjadi bagian, belum menjadi aktor utama. Bila ditelusuri,
kesinambungan antara revolusi pertama hingga keempat adalah literasi. Mereka
mampu menjawab kebutuhan manusia. Bahkan mampu memandu perjalanan keinginan
manusia untuk masa depan.
Istilah saat ini,
literasi merujuk pada kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah yang sedang
dan akan dihadapi. Kemampuan ini berdiri diatas kemampuan membaca dan berhitung.
Di dunia Pendidikan, mengajarkan untuk menyelesaikan masalah, memang belum
lama. Sehingga terjadi kegagapan baik oleh gurunya sendiri maupun siswa. Kalau
hanya mencari literasi sebagai rujukan referensi, saat ini sangat mudah.
Internet menyediakan segalanya. Namun, untuk menjadi sebuah budaya membaca di
era digital ini bukan perkara mudah.
Sebagai guru tentu
memiliki beban yang berat, karena harus memandu dirinya sendiri dan juga anak
didik, kehidupan berliterasi menjadi kebiasaan setiap saat. Guru juga harus
mampu membawa perubahan yang positip, memadukan gerakan gerakan membaca dan
menulis. Sebab, berkembangnya literasi bacaan dan ketrampilan menghitung,
dibarengi dengan berkembangnya game yang disukai oleh anak-anak. Meskipun guru
telah membiarkan anak untuk mencari sumber informasi yang seluas-luasnya di
padang internet, tapi anak tetap didampingi dalam menggunakan dunia digital.
Gerakan mendidik bersama
antara Pendidikan, Orang tua dan Masyarakat mutlak dilakukan. Tidak boleh
berdiri sendiri-sendiri. Di saat-saat tertentu, anak memang harus dikendalikan
atau bahkan dibimbing langsung saat membaca konten. Di saat tertentu pula, anak
diberi keleluasaan untuk mengeksplore internet. Internet harus menjadi sahabat
untuk meraih kehidupan yang sehat.
Posting Komentar untuk "Mengendalikan Literasi"