Comfort Zone

Hidup nyaman memang idaman setiap orang. Badan lelah setelah bekarja harapannya dapat duduk santai ditemani secangkir teh hangat yang bersanding dengan cemilan. Atau rebahan sekedar untuk meluruskan punggung. Melihat anak-anak berlarian, rasanya lengkap hidup itu.

Istilah yang sering dipakai adalah Comfort Zone. Comfort artinya kenyamanan. Secara psikologis orang merasa aman, nyaman dan terhindar dari ketidakpastian. Ini adalah area di mana kita sudah terbiasa dengan rutinitas, tugas, dan lingkungan sekitar. Meski terdengar menyenangkan, namun zona nyaman ini seringkali menghambat pertumbuhan dan perkembangan diri. Mengapa sebabnya?

Manusia butuh suasana baru, tidak monoton atau stagnan. Ketika terlalu nyaman, kita cenderung berhenti belajar hal baru dan mengembangkan kemampuan. Disaat orang lain berpacu dalam memperoleh hal-hal baru, kita malah duduk dengan nyaman.

Sangat wajar bila kenyamanan akan hilang begitu saja. Sedapat mungkin kedamaian ini tak lepas. Apalagi bila mengenggam kekuasaan. Keluar dari zona nyaman seringkali diiringi dengan rasa takut akan kegagalan, tidak diterima di komunitas yang baru, atau ketidakpastian masa depan.

Meskipun saat ini menenteramkan, kita mungkin tidak sepenuhnya puas karena tidak ada tantangan baru yang menarik. Melihat masa depan ibarat sebuah jalan yang lurus dan berujung pada fatamorgana.

Kata sang bijak, jangan takut untuk mencoba hal-hal baru, meskipun itu harus melepas ketenangan dan kedamaian. Jangan bimbang, di luar sana suasana lebih indah, bahkan mungkin jauh lebih nyaman. Langkah kaki pertama sangat berpengaruh terhadap keinginan untuk berubah. Jangan lupa, membangun jaringan harus lebih tersebar dari pada saat menbangun relasi hingga sekarang. Berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang dan perspektif yang berbeda dapat memperluas wawasan Anda.

Posting Komentar untuk "Comfort Zone"