Hasad

Jum'at Berkah

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya,” al Syam: 9-10

Hasad, dalam Bahasa Arab artinya dengki, iri, atau cemburu, yaitu perasaan tidak senang terhadap kebahagiaan orang lain. Bukan hanya itu. Rasa cemburu ini mengharapkan agar orang yang berbahagia, segera tercerabut atau kehilangan nikmtanya.

Imam Al Ghazali, dalam bukunya Bidayatul, menguraikan bahwa benci terdiri dari tiga macam.

Pertama. Seseorang yang tidak senang, jika orang mendapatkan kenikmatan dan ia mengharapkan agar nikmat itu berpindah kepada dirinya

Kedua. Seseorang yang tidak suka melihat orang lain mendapatkan kenikmatan dan ia berharap agar nikmat itu hilang dari pemiliknya.

Ketiga. Seseorang yang tidak suka apabila orang lain memiliki kenikmatan yang melebihinya.

Ketiga macam hasad ini memiliki kecenderungan negatif, dapat membahayakan dirinya dan orang lain. Sebab didominasi oleh ketidaksukaan yang membabi buta.

Sebuah Kisah

Pada masa salah satu kekhalifahan, hiduplah seorang hartawan. Hartanya melimpah. Suatu hari, ia membeli seorang budak yang diperlakukan seperti anaknya sendiri. Diberinya makanan yang enak. Dikenakannya pakaian yang bagus. Dibekalinya sejumlah uang yang cukup untuk membeli makanan atau barang yang disukainya. Tak ada bedanya dengan anaknya sendiri.

Dibalik itu, sang budak merasa ada sesuatu yang aneh pada tuannya. Setiap hari ia melihat tuannya selalu gelisah. Tidak terbersit sesaatpun wajah yang gembira. Atau hanya sekedar dapat menikmati sebagai seorang hartawan. Diam-diam sang tuan memiliki sebuah rencana, untuk membebaskan budak itu.

Suatu ketika, saat mereka duduk berdua, si hartawan berkata

“Apakah kau tahu, mengapa aku memperlakukan kamu begitu baik?”.

“Tidak”. Tukas si budak, seraya menanyakan alasannya.

“Aku punya satu permintaan kepadamu. Bika kau penuhi permintaanku, kamu akan memiliki dan menikmati seluruh harta yang kuberikan kepada kamu. Namun, bila kamu menolak aku akan sangat kecewa kepadamu”.

Si budak menjawab, “akan ku patuhi apa saja yang tuan minta”.

Hartawan melanjutkan permintaannya lagi. “Engkau harus berjanji kepadaku untuk melakukannya, karena kau khawatir, kamu akan menolaknya”.

“Aku berjanji apa yang tuan inginkan”. Jawabnya.

Dengan nada hati-hati, hartawan berkata. “Keinginanku adalah, kamu harus memenggal kepalaku pada waktu dan tempat yang saya tentukan”.

Tentu saja si budak kaget dan terperangah. Bagimana mungkin ia yang selama ini dimanja oleh tuannya, tiba-tiba harus membunuh tuannya dengan cara memenggal. Si budak tidak tega, dan bagaimana harus melakukannya.

Si hartawan menuturkan lagi. “Aku telah pegang janjimu. Kamu harus melakukannya”.

Di suatu malam, si hartawan membangunkan budak seraya menyerahkan sebuah pedang yang tajam dan sekantung uang. Mereka berdua segera naik ke atap rumah. Si hartawan berpesan, agar setelah ia melakukan pekerjaannya, segera pergi yang jauh untuk menghindari hukum yang diterapkan oleh khalifah.

Sebelum mengeksekusi, si budak bertanya kepada tuannya. Sesungguhnya apa yang telah terjadi, sehingga si budak harus memenggal kepala hartawan. Seketika itu hartawan menceriterakan apa adanya.

“Aku benci tetangga kita. Aku lebih senang kematian daripada melihat wajahnya. Kami adalah saingan, tetapi ia telah mendahuluiku dan mengungguliku dalam segala hal. Aku terbakar dengan kebencian. Aku ingin agar ia dipenjara karena menghalangi rekayasaku. Setiap orang tahu, bahwa ia adalah sainganku”.   

Bahan bacaan: Manusia Sempurna, karya Mutadha Muthahhari

 

 

 

  

Posting Komentar untuk "Hasad"