Takdir

 


Jum'at Berkah

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS Al-Hadid: 22).

Paling tidak ada tujuh ayat, Allah menentukan tentang takdir yang telah tertulis dalam Lauhul Mahfuzh (kitab yang berisi catatan takdir dan segala macam peristiwa yang terjadi di alam semesta). Meski demikian masih ada yang menafsirkan lauhul mahfuzh adalah kitab yang berhenti. Padahal, takdir masih dapat berubah sesuai dengan keinginan manusia. Tafsir takdir ini memunculkan perbedaan antara aliran Jabariyah dan penganut Qadariyah.

Sebelum memerinci dua kutub itu, ada baiknya saya nukilkan sebuah drama dari legenda Yunani yang sangat terkenal, yaitu kisah Oedipus Rex (Raja Oedipus), karangan Sophocles, seorang dramawan yang hidup sekitar abad ke-5 sebelum masehi.

Lakon Oedipus berawal dari saat dia masih muda. Ia mendengar Oracle (dukun Yunani kuno) yang mentakdirkan bahwa ia akan membunuh ayahnya dan mengawini ibunya sendiri. Sebagai manusia, Oedipus tentu ingin menghindar dari garis Nasib yang demikian. Maka, suatu hari ia meninggalkan orang tuanya dan pergi mengembara.

Tapi langkahnya itu malah justru mendatangai takdirnya. Dalam sebuah perjalanan, dia terlibat insiden dengan seorang sais. Merasa tak bersalah, Oedipus bertengkar dengan sais tersebut, dan berakhir dengan terbunuhnya sais. Dikemudian hari diketahui, ternyata sais tersebut adalah ayahnya sendiri.

Suatu hari, ia mengikuti sebuah sayembara yang hadiahnya adalah sebuah tahta dan seorang permaisuri. Ternyata pula bahwa sang permaisuri yang sudah janda adalah wanita yang telah melahirkan. Itulah takdir yang menimpanya.

Suatu hari, terbukti bahwa orang yang dibunuh dan ibunya ternyata bukan orang tua kandung, melainkan orang tua angkat. Maka dengan rasa putus asa, Raja Oedipus, dihadapan anak-anaknya yang juga saudara kandungnya sendiri, lalu menghukum diri dengan cara mencopot kedua bola matanya, dan pergi meninggalkan istana.

Dalam Islam, kepercayaan serupa juga pernah muncul dengan sebutan paham Jabariyah. Aliran ini percaya bahwa Tuhan, tidak saja telah menentukan garis perjalanan hidup manusia, melainkan juga kehendak dan perbuatannya. Manusia tidak memiliki kebebasan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya, tapi berada dalam paksaan (jabr).

Orang yang mempolitisasi paham jabariyah adalah Mu’awiyah ibn Sufyan, raja pertama pendiri Dinasti Umayyah di Damaskus. Ia telah menafsirkan dengan sekehendak hati tentang qadha’ dan qadar. Karena ucapan beliau dianggap sebagai titah raja, maka diikti oleh keluarga dan merata di kalangan penguasa. Paham ini berlarut-larut hingga Bani Umayyah runtuh. Namun, sebagai ajaran pandangan jabariyah masih juga dianut oleh sebagian umat Islam hingga kini.

Karena aliran jabariyah lebih banyak digunakan untuk tujuan politik, maka ditentang oleh masyarakat. Mereka yang berseberangan dengan kalangan istana, menginginkan agar Aqidah dan moral harus suci. Mereka ini menyebut dirinya dengan golongan Qadariyah. Mereka menganggap bahwa manusia sepenuhnya bebas menentukan kehendak dan melakukan perbuatannya.

Qadariyah berasal dari kata qadar, yang artinya kemampuan dan kekuatan. Qadariyah percaya bahwa segala Tindakan manusia tidak ditentukan dan diarahkan oleh Tuhan. Tokoh utamanya adalah Ma’bad al Juhani dan Ghailani al Dimasyqi.

Para penganut aliran qadariyah percaya, bahwa manusia memiliki kuasa terhadap segala perbuatannya sendiri. Mereka juga percaya, bahwa manusia yang mewujudkan perbuatan baik, atas kehendak serta kekuasan dirinya sendiri.

Manusia pula yang melakukan maupun menjauhi seluruh perbuatan jahat atas kemauan maupun kemampuannya sendiri. Dalam aliran qadariyah, para pengikutnya memiliki paham bahwa manusia adalah makhluk merdeka yang bebas bertindak.

Posting Komentar untuk "Takdir"