Perang Salib (2)

 

Seperti halnya pada jargon kekuatan alam. Siapa yang kuat itulah yang berkuasa. Kolonialisme tampak tahu benar quote ini. Untuk menguasai sebuah daerah harus dengan jalan kekuatan, utamanya militer. Kolonialisme melahirkan cara-cara yang keji, agar akar kekuasaan tetap menancap pada daerah jajahan, seperti adu domba, menjadikan masyarakat tetap bodoh, mengangkat raja-raja boneka.

Kolonialisme diciptakan oleh Eropa. Gelombang ini didorong karena revolusi industri untuk mencari pasaran di benua-benua lain untuk menyalurkan barang-barangnya. Kolonialisme juga mengeruk hasil bumi dari daerah jajahan.

Disamping itu, pemilik modal juga membutuhkan tenaga-tenaga murah untuk menghidupkan mesin industrinya. Banyak anak-anak Muslim terutama di Afrika menjadi korban perbudakan. Periode ini dipimpin oleh Inggris, Perancis, Belanda, Belgia, Italia dan Jerman. Negara-negara ini terus memutar pabrik-pabrik agar menghasilkan barang. Tujuan ekonominya bergerak di balik motif-motif salib. Perdana Menteri William Ewart Gladstone (1809 – 1898) menyatakan dengan tegas dihadapan Parlemen Inggris “Selama ini Al Qur’an ada di dalam pikiran dan hati orang Mesir, kita tidak akan pernah dapat menguasainya”

Paus Urbanus II

Gerakan kebangkitan religious telah muncul di Eropa Barat pada abad ke-10 M, dan mencapai puncaknya pada abad ke-11 M. Kebangkitan ini menguatka posisi kepausan dan menginspirasi religious di hati orang-orang. Gereja menjadi semarak, bukan hanya untuk peribadatan, tetapi juga untuk politik, budaya, memperluas daerah jajahan sekaligus sebagai upaya untuk membebaskan Baitul Maqdis dari tangan orang Muslim. Salah satu tokoh yang terkenal adalah Paus Urbanus II.

Inilah yang menjadi salah satu sebab mengapa percikan perang salib muncul. Paus Urbanus II sangat getol memperjuangkan genderang perang. Upaya ini ia tempuh dengan mengundang tidak kurang dari tiga ratus rohaniawan serta penguasa-penguasa Eropa, yang berkumpul di kota Clermont di Paris. Paus mampu membakar semangat yang hadir kala itu, seraya berkata “Itulah kehendak Tuhan”, seketika hadirin berdiri dan mengangkat salib sebagai simbol perjuangan mereka.

Kompor yang dinyalakan Paus berhasil, meskipun dalam kenyataan berbeda dengan kenyataan aslinya. Banyak sejarawan yang obyektif menyatakan bahwa umat Kristen yang tunduk pada pemerintahan Seljuk justru merasa lebih bahagia daripada saudara-saudara mereka yang tinggal di dalam Kekaisaran Byzantium itu sendiri. Tidak ada bukti mengenai penindasan terhadao umat Kristen di wilayah Timur.

Said Asyur dalam bukunya Maktabah al Anglo al-Mishriyah, mencatat: Salah seorang sejarawan ternama Eropa pernah mengatakan “kasus-kasus individu penganiayaan yang dialami oleh orang Kristen di negara-negara Islam di Timur Tengah, khususnya, tidak dapat dijadikan alasan yang benar untuk memulai Perang Salib, karena umat Kristen menikmati kebebasan agama dan non-agama yang luas di bawah pemerintahan Islam. Tidak hanya diperbolehkan untuk mempertahankan gereja-gereja, tetapi mereka justru diperbolehkan membangun gereja”. Dari sini dapat dipetik garis, bahwa memang salah satu sebab terjadinya Perang Salib karena Agama. Namun tidak dominan. Masih ada sebab lain seperti yang saya tulis di awal. (bersambung)

Sumber bacaan: “Akar Sejarah Perang Salib” karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash Shallabi.

Posting Komentar untuk "Perang Salib (2)"