Seperti
halnya pada jargon kekuatan alam. Siapa yang kuat itulah yang berkuasa.
Kolonialisme tampak tahu benar quote ini. Untuk menguasai sebuah daerah harus
dengan jalan kekuatan, utamanya militer. Kolonialisme melahirkan cara-cara yang
keji, agar akar kekuasaan tetap menancap pada daerah jajahan, seperti adu
domba, menjadikan masyarakat tetap bodoh, mengangkat raja-raja boneka.
Kolonialisme
diciptakan oleh Eropa. Gelombang ini didorong karena revolusi industri untuk
mencari pasaran di benua-benua lain untuk menyalurkan barang-barangnya.
Kolonialisme juga mengeruk hasil bumi dari daerah jajahan.
Disamping
itu, pemilik modal juga membutuhkan tenaga-tenaga murah untuk menghidupkan
mesin industrinya. Banyak anak-anak Muslim terutama di Afrika menjadi korban
perbudakan. Periode ini dipimpin oleh Inggris, Perancis, Belanda, Belgia,
Italia dan Jerman. Negara-negara ini terus memutar pabrik-pabrik agar
menghasilkan barang. Tujuan ekonominya bergerak di balik motif-motif salib.
Perdana Menteri William Ewart Gladstone (1809 – 1898) menyatakan dengan
tegas dihadapan Parlemen Inggris “Selama ini Al Qur’an ada di dalam pikiran dan
hati orang Mesir, kita tidak akan pernah dapat menguasainya”
Paus
Urbanus II
Gerakan
kebangkitan religious telah muncul di Eropa Barat pada abad ke-10 M, dan
mencapai puncaknya pada abad ke-11 M. Kebangkitan ini menguatka posisi kepausan
dan menginspirasi religious di hati orang-orang. Gereja menjadi semarak, bukan
hanya untuk peribadatan, tetapi juga untuk politik, budaya, memperluas daerah
jajahan sekaligus sebagai upaya untuk membebaskan Baitul Maqdis dari tangan
orang Muslim. Salah satu tokoh yang terkenal adalah Paus Urbanus II.
Inilah
yang menjadi salah satu sebab mengapa percikan perang salib muncul. Paus
Urbanus II sangat getol memperjuangkan genderang perang. Upaya ini ia tempuh
dengan mengundang tidak kurang dari tiga ratus rohaniawan serta
penguasa-penguasa Eropa, yang berkumpul di kota Clermont di Paris. Paus mampu
membakar semangat yang hadir kala itu, seraya berkata “Itulah kehendak Tuhan”,
seketika hadirin berdiri dan mengangkat salib sebagai simbol perjuangan mereka.
Kompor
yang dinyalakan Paus berhasil, meskipun dalam kenyataan berbeda dengan
kenyataan aslinya. Banyak sejarawan yang obyektif menyatakan bahwa umat Kristen
yang tunduk pada pemerintahan Seljuk justru merasa lebih bahagia daripada
saudara-saudara mereka yang tinggal di dalam Kekaisaran Byzantium itu sendiri.
Tidak ada bukti mengenai penindasan terhadao umat Kristen di wilayah Timur.
Said
Asyur dalam bukunya Maktabah al Anglo al-Mishriyah, mencatat:
Salah seorang sejarawan ternama Eropa pernah mengatakan “kasus-kasus individu
penganiayaan yang dialami oleh orang Kristen di negara-negara Islam di Timur
Tengah, khususnya, tidak dapat dijadikan alasan yang benar untuk memulai Perang
Salib, karena umat Kristen menikmati kebebasan agama dan non-agama yang luas di
bawah pemerintahan Islam. Tidak hanya diperbolehkan untuk mempertahankan
gereja-gereja, tetapi mereka justru diperbolehkan membangun gereja”. Dari sini
dapat dipetik garis, bahwa memang salah satu sebab terjadinya Perang Salib
karena Agama. Namun tidak dominan. Masih ada sebab lain seperti yang saya tulis
di awal. (bersambung)
Sumber
bacaan: “Akar Sejarah Perang Salib” karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash
Shallabi.
Posting Komentar untuk "Perang Salib (2)"