Perang Salib (3)

 

Motif Politis

Pada zaman nenek moyang kita, yang hidup di daerah agraris, tulang punggung utamanya adalah bertani. Pekerjaan yang diperoleh turun temurun. Ilmu mengelola bercocok tanam juga dari ketrampilan turun temurun. Pada saat tiba orang tua membagi waris, maka lahan pertanian dibagi sesuai dengan jumlah anaknya. Sehingga yang diperoleh tiap anak menjadi lebih kecil. Bila orang tua memiliki tanah lima hektar, dan anaknya juga lima laki-laki semua, maka seorang anak akan memperoleh bagian satu hektar. Tentu ladang garapnya menjadi berkurang.

Kehidupan raja-raja juga menganut sistim feodal. Artinya, seorang raja juga memiliki tanah kekuasaan. Pada saatnya tiba, seorang raja pasti akan membagikan warisannya kepada pangeran-pangeran. Sebagaimana kita ketahui, sistem feodalalisme selalu terkait dengan tanah. Semakin besar feodalismenya dan luas tanahnya, maka semakin tinggi kedudukan seorang pangeran dalam hirarki.

Dari titik inilah, karena tanah yang diterima sepersekian bagian dari pemberian raja, maka banyak pangeran yang memiliki ide untuk memperluas tanah. Bila daerah kekuasannya semakin luas, maka pengaruh politiknya juga semakin kuat. Tak heran, bila ingin mendapatkan daerah kekuasaan dan hasrat pengakuan sebagai seorang raja baru, menyerang daerah lain adalah jalan terbaik.

Kemunculan perang salib membuka pintu baru bagi pangeran dan ksatria untuk meraih kesuksesan di Timur. Mereka tergerak dan terhasut panggilan kepausan untuk berlomba-lomba berpartisipasi dalam perang, dengan harapan mendapatkan wilayah mereka sendiri di Timur.

Tujuan utama dari perang salib adalah merebut Baitul Maqdis. Bagi mereka, sesungguhnya merebut Baitul Maqdis merupakan tujuan sampingan. Ada cita-cita yang lebih besar dibalik keikut sertaannya dalam perang Salib. Wilayah Timur memang menggiurkan. Tanahnya luas.

Dipihak lain, Kaisar Byzantium (Alexios), membiarkan atau tidak menghalangi keinginan dari pangeran-pangeran. Keinginan dari Byzantium hanyalah pengakuan dan kesetiaan dari penguasa Barat. Di pihak Baratpun mempunyai tujuan tersembunyi. Misalnya Spanyol dan Perancis, menyebut perang dengan tentara Muslim sebagai perang suci (the crusade).

Dari sekian banyak pihak-pihak yang terlibat dalam perang salib, tidak semuanya berambisi untuk memperluas kekausaanya atau merebut tanah dari masyarakat Muslim. Ada komunitas yang secara tulus, akan mengembalikan Marwah mereka dalam kepausan. Salah satunya adalah ksatria Templar. Kelompok ini berkomitmen untuk melindungi tempat-tempat suci yang memiliki hubungan langsung dengan Paus. Gereja-gereja di sekitar Baitul Maqdis diwajibkan untuk menyisihkan sepuluh persen dari pendapatannya, untuk keperluan misi religius.

Sumber bacaan: “Akar Sejarah Perang Salib” karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash Shallabi.

Posting Komentar untuk "Perang Salib (3)"