Perang Salib (4)

Pecah Perang Salib Pertama 

Seruan Paus Urbanus II yang mengajak ekspedisi salib, para rohaniawan diminta untuk kembali ke tanah kelahirannya, dan diberi wejangan untuk menyebarkan kabar tentang perang. Ekspedisi ini secara cepat membentuk empat benteng yang terletak di Edessa (sekitar sungai Eufrat), Antiokia (wilayah utara Syam), Tripoli, dan Baitul Maqdis Palestina.  

Kecepatan gerak pasukan salib tidak diimbangi dengan kesigapan dunia Islam. Malah justru yang terjadi konflik kekuasaan dalam kekhalifahan Seljuk, Jatuhnya Bani Umayyah di Andalusia, Sikap Keemiratan Arab terhadap invasi pasukan salib, serta sebab-sebab lain yang didominasi intern umat Islam sendiri.  

Fokus pasukan salib pada pembangunan benteng-benteng sebagai kekuatan utama. Benteng ini dapat diibaratkan sebagai stasiun penghubung, untuk mendeteksi kekuatan lawan. Di Benteng-benteng ini pula, sebagai tempat untuk membakar semangat pasukan. Boleh dikatakan sebagai pusat pelatihan militer, serta mempersiapkan strategi perang. 

Guncangan akibat jatuhnya Baitul Maqdis, membangkitkan kesadaran umat Islam terutama banyak ulama dan penguasa wilayah, untuk segera berjaga-jaga di daerahnya masing-masing. Mereka segera menghubungi dan minta bantuan pada penguasa pusat di Baghdad, karena mereka menganggap bahwa kekuatan militer di Baghdad mampu untuk menghalangi gerakan invasi salib. 

Sebenarnya, mereka bukan hanya minta bantuan militer, namun para ulama dengan gigih melawan propaganda dengan menulis dan mengarang berbagai kitab tentang jihad. Harapannya agar umat Islam bangkit untuk mempertahankan budaya Islam, membangun ekonomi, meredakan konflik politik. 

Ada keberhasil di beberapa tempat. Promisi yang dilakukan secara terus menerus yang dilakukan oleh ulama mendapatkan respon yang positif dari fuqaha (ahli fiqih), dan qadhi (hakim). Salah satu qadhi yang terkenal, yaitu Ibnu Shulaihah berhasil memukul pasukan salib dengan caraPsy War”, dengan menebarkan berita palsu. 

Benih jihad, rupanya merasuki sastrawan. Mereka membuta puisi-puisi perjuangan untuk menggelorakan umat dalam mempertahankan tanah mereka. Dengan daya imajenasi yang kuat, Baitul Maqdis menginspirasi umat Islam untuk direbut kembali.  

Genderang perang salib bagaikan sebuah gelombang yang menggulung Eropa dan Dunia Islam. Peristiwa ini memunculkan pahlawan-pahlawan dari kedua belah pihak. Pasukan salib merasa bangga bila dapat menumpas umat Islam, ketika dipimpin oleh seorang jendral. Demikian pula sebaliknya, Dua Islam dapat mengukir seorang pahlawan di masing-masing daerah. Armada masing-masing barisan sampai tidak mengetahui lagi, apakah pertikaian yang mereka dilakukan benar-benar membela agama, atau sekedar membetengi raja-raja mereka. Perang ini merugikan harta, benda dan nyawa dari kedua belah pihak sampai berabad-abad.  

Sumber bacaan: “Akar Sejarah Perang Salib” karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash Shallabi. 

Posting Komentar untuk "Perang Salib (4)"