Sungguh berat tatkala Rasulullah Muhammad SAW menerima perintah untuk melaksanakan Isra’ Mi’raj. Sebuah perjalanan yang bukan hanya bersifat fisik, tetap mental juga dipertaruhkan. Karena setelah melaksanakan, ada beban berat yang harus dilaksanakan oleh beliau dan umatnya.
Pertama. Beliau ditinggal oleh Abu Thalib. Seorang paman yang bukan hanya sangat dekat namun sebagai orang yang melindungi dalam menyebarkan dakwah Islam. Tak berapa lama, istrinya yang sangat dicintai, Siti Khatijah menyusul sang paman menghadap sang khalik. Istri yang sangat berjasa mendampinginya dalam suka dan duka. Beliau juga selalu membesarkan hatinya sekaligus banyak mengorbankan harta bendanya.
Kedua. Rasulullah juga harus siap menerima cemooh dari orang kafir karena telah melaksanakan Isra’ Mi’raj yang tidak mungkin dengan nalar. Bagaimana mungkin, perjalanan dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsha(Yerusalem) dilanjutkan naik ke langit (Mi’raj), dan Kembali ke Makkah yang ditempuh hanya kurang dari satu malam. Padahal Isra’ Mi’raj adalah ranah iman, bukan logika atau nalar. Semakin membabi buta kaum kafir untuk menolak ajakan Rasulullah.
Ketiga. Dalam keadaan terjepit, Rasulullah dan pengikutnya menyingkir sementara untuk menghindari ejekan, cacian, sumpah serapah, bahkan kekerasan fisik. Tujuan utamanya pergi ke Thaif. Diperkirakan jauhnya 65 km dari Makkah. Tak diduga, ternyata Penduduk Thaif sama saja. Bahkan, dalam satu Riwayat, beliau dilempari batu. Beliaupun Kembali lagi ke Makkah dengan penuh kesabaran.
Salah seorang yang membenarkan dan mempercayai peristiwa Isra’ Mi’raj adalah Abu Bakar. Sehingga Abu Bakar mendapat gelas Ash-Shiddiq (dipercaya) dibelakang namanya, sehingga panggilan beliau adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Peristiwa Isra’ Mi’raj ini mengandung etika dalam mengemban Amanah. Pertemuan langsung manusia dengan Allah harus selalu terhubung setiap saat. Jangan sampai terpisah. (Jasad manusia diwakili oleh Rasulullah). Karena manusia membutuhkan petunjuk dan bimbingan Allah.
Manusia diciptakan Allah dibekali dengan hati Nurani. Namun, dalam waktu yang sama Allah juga membekali manusia dengan hawa nafsu. Antara hati Nurani dan hawa nafsu senantiasa berebut pengaruh dan selalu bertarung. Disinilah letak perjuangan hidup manusia.
Amanah, ibarat bola yang selalu diperebutkan antara hati nurani dan hawa nafsu. Manakala nuraninya menang, bola akan masuk ke kotak yang berpendarkan cahaya untuk menerangi makhluk lainnya. Sebaliknya, saat bola ditangan hawa nafsu, ia akan jatuh ke kota kegelapan. Tak ada nur sedikitpun untuk menapaki jalan kebenaran.
Buku bacaan: “Refleksi atas Persoalan Keislaman” karya KH. Ahmad Azhar Basyir, MA
Posting Komentar untuk "Amanah"