Abangan

Rentang waktu Mei 1953 hingga September 1954, Clifford Geertz dalam sebuah penelitian di Mojokuto, Jawa Timur, membagi kelompok sosial. Ketiga komunitas sosial tersebut adalah santri, abangan dan priyayi. Di Mojokuto sendiri sebenarnya masyarakatnya heterogen. Saat itu, jumlah penduduk diperkirakan 20.000 orang. Mereka terdiri dari 18.000 orang Jawa, 1.800 orang China dan selebihnya ada etnis Arab, India dan minoritas lainnya.

Dalam praktik kehidupan sehari-hari, abangan lebih menekankan pada aspek animisme sinkretisme jawa secara keseluruhan. Umumnya diasosiakan dengan unsur petani, ataupun buruh. Kelompok santri lebih intens pada aspek Islam sinkretisme. Biasanya mereka berprofesi sebagai pedagang, wiraswasta. Sedang priyayi, lebih condong pada aspek hindu dan diasosiasikan dengan unsur birokrasi.

Orang Jawa Muslim yang melaksanakan peribadatannya dengan mencampur adukkan berbagai aliran seperti Hindu, Budha, dan Animisme, sering disebut abangan. Mereka cenderung mengikuti sistem kepercayaan lokal secara adat, dari pada hukum Islam yang murni atau syariah. Kemunculan kaum abangan diperkirakan sekitar abad ke-19.

Melacak sejarah, kata abang berarti merah, namun tidak ada kata jadian abangan, tulis Gericke dan T. Roorda (1801-1874). Istilah ini terus berkembang, hingga tahun 1901 telah ditemukan kata abangan. Menurut istilah kaum santri, abangan dinisbahkan kepada seseorang yang tidak beriman, yang tidak menjalankan kewajiban agama.

Dewasa ini, secara kuantitas kaum abangan menyusut, kata Dr. Sugeng Wahyono, M.Si. Hal ini disebabkan karena gencarnya modernisasi pertanian. Basis dari eksistensi abangan adalah masyarakat agraris tropik, sehingga menjadikannya begitu dekat dengan aktivitas pertanian. Apalagi ditopang dengan masifnya digitalisasi.