Adab Berpuasa ala Imam Al Ghazali

Ramadhan 1443 H – Hari keduabelas

Nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ta’us Ath-Thusi as-Syafi’i al-Ghazali, sering kita sebut Imam al Ghazali. Lahir di Thus, Khurasan, Iran pada tahun 450 H/1058 M. Seorang ulama, penulis buku yang sering menjadi rujukan. Hingga saat ini, karya beliau masih dipakai untuk rujukan dalam khasanah keislaman.

Sebuah tulisan yang bagus tentang ramadhan. Rasulullah sering mengingatkan kepada para sahabatnya bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Menurut al Ghazali ada enam syarat berpuasa batiniah. Antara lain :

Pertama, menahan pandangan dari segala yang tercela dan dari semua yang dapat melalaikan dari dzikir kepada Allah. Memandang sesuatu dengan niat tidak tulus, akan meruntuhkan iman seseorang. Mata adalah jendela dunia. Manfaatkan mata hanya untuk bersyukur kepadaNya.

Kedua, menjaga lisan. Seseorang yang mengucapkan sesuatu tanpa dasar, tanpa ada bukti yang cukup, dikatakan berbohong atau berbohong. Andai menambah atau mengurangi informasi dari kejadian yang sesungguhnya, dengan harapan ingin mendapatkan sesuai, dikatakan menggunjing. Kata orang lidah tidak bertulang. Namun, yang tidak bertulang itu menjadi elastis, mudah dilipat, mudah diputar. Bila tak hati-hati, fitnah yang timbul

Ketiga, Menahan pendengaran dari semua yang dibenci dan tercela. Apa yang haram diucapkan, haram pula didengarkan. Seleksi terhadap informasi memerlukan ketrampilan dan kesabaran. Trampil dalam memilah, dan sabar dalam memilih. Banjir informasi seperti yang sekarang kita rasakan, membutuhkan hati yang lapang untuk memilih sesuai kebutuhan, dan tidak menggangu keimanan seseorang.

Keempat, menahan semua anggota badan dari perbuatan yang merugikan dirinya sendiri. Makan dan minum secara wajar, halal dan thoyyib agar perut terasa nyaman. Makanan yang penuh gizi dan menyehatkan. Sari-sari makanan yang akan membawa keberkahan. Badan menjadi sehat secara jasmani dan rokhani. Bila badan sehat, dan tubuh kuat, maka akan aktivitasnyapun juga yang menyehatkan dan terhindar dari larangan.

Kelima, tidak memperbanyak pada waktu berbuka. Perut, yang semula kosong, hendaknya hati-hati bila kemasukan makanan atau minuman. Harus pelan-pelan dan tidak diperkenankan dalam skala yang besar. Andai makanan dipaksakan masuk, maka akan terjadi kontraksi yang mengakibatkan sakit. Kendalikan nafsu makan dan minum saat berbuka atau malam hari.

Keenam, pada waktu berbuka, hendaknya hatinya selalu diletakkan antara cemas dan harap. Cemas kalau ibadah selama puasa tidak diterima Allah. Berharap agar amal shalih yang dilakukan mendapat nilai dari Allah. Namun ada sebuah perilaku diantara keduanya, yaitu bersyukur. Apapun hasilnya, dinikmati dan di syukuri. Kita berharap agar dengan syukur Allah akan menambah kenikmatan lagi.