Al Khalik

Jum’at Berkah

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (At-Tin: 4)

Al Khalik adalah salah satu nama dalam asmaul husna, yang artinya Maha Pencipta. Allah adalah pencipta segalanya. Mulai dari benda hidup seperti malaikat, manusia, binatang, sampai benda mati antara lain: batu, air, gunung dan lain-lain. Diantara ciptaan tersebut yang paling istimewa adalah manusia, sebagaimana yang tertera dalam ayat di atas.

Mengapa manusia memiliki keistimewaan? Karena dibekali dengan akal. Bentuk fisik yang sempurna, akal atau pikiran, hati atau perasaan dan nafsu atau keinginan. Kelebihan ini tidak didapatkan pada makhluk lainnya. Akal, merupakan ciptaan yang tertinggi, karena akal merupakan pembeda diantara makhluk lainnya.

Karunia adalah kenikmatan tersendiri. Akal akan menumbuhkan masyarakat menjadi dinamis. Permasalahan apapun dapat diselesaikan dengan akal. Manusia menjadikan kehidupan ini lebih modern, karena akal. Akal mampu membedakan yang benar dan yang salah, bersih atau kotor, bermanfaat ataupun madharat.

Namun demikian, akal ada batasnya. Hanya sedikit yang diberi hidayah. Manusia pilihan saja yang mampu membuka tabir pada hal-hal diluar akal manusia. Keterbatasan itulah yang menjadikan manusia supaya tidak berlaku sombong.

Di antara produk dari akal adalah mampu menciptakan kreasi. Kebutuhan manusia menjadi beragam, efektif dan efisien. Hasil cipta manusia tersebut sering kita beri nama budaya. Budaya dapat bernilai benar atau salah. Maka ada ungkapan “Tak ada gading yang tak retak.” Karenanya, Islam datang ke dunia ini bukan untuk menghancurkan budaya. Islam diturunkan ke bumi ini bukan untuk menghapus budaya. Tetapi Islam datang untuk membimbing budaya agar menjadi budaya yang beradab. Budaya yang mencerahkan. Budaya yang mampu mengangkat derajat kemanusiaan.

Budaya tolong menolong, gotong royong merupakan kegiatan masyarakat yang bernilai baik. Demikian pula sopan santun, hormat kepada yang lebih tua. Kebiasaan yang telah melekat dalam masyarakat itu, disempurnakan oleh Islam seperti “tolong menolonglah dalam kebaikan.” Budaya yang demikian itu akan melahirkan kebaikan untuk semuanya.

Sebaliknya, menyuburkan budaya yang menjurus kepada kemusyrikan harus dipangkas sampai akar-akarnya. Karena, budaya ini menafikan adanya Allah sebagai pencipta. Melakukan upacara-upacara tradisional tetap boleh dilaksanakan selama masih dalam koridor untuk menghamba kepada Allah. Budaya yang merupakan hasil kreasi tetua kita tetap mesti dilestarikan. Justru ritual tersebut sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan sang Khalik.