Aliran-aliran dalam Islam (1)

Ramadhan 1443 H – Hari Ketigapuluhtiga

Pemerintahan yang paling demokratis, adalah saat masih dipegang oleh Rasulullah Muhammad SAW. Meskipun sebenarnya, Rasulullah sendiri masih menerapkan pola-pola kehidupan masyarakat pada masa itu yaitu bangsa Quraisy. Sistim yang telah terbangun kala itu dijalankan lewat musyawarah yang anggotanya terdiri dari kepala-kepala suku. Tetapi Rasulullah lebih baik menghindar dan rela hijrah ke Madinah, karena desakan dari perlawanan kelompok-kelompok pedagang, yang solidaritasnya sangat kuat.

Pada waktu masih berada di Makkah, Rasul hanya menjadi pemimpin agama. Setelah bermukim di Madinah, Rasul memiliki fungsi ganda, yaitu pemimpin agama sekaligus pemimpin negara. Disinilah, Rasulullah membangun masyarakat sesuai dengan ajaran yang beliau sampaikan yaitu Islam. Sampai sekarang, orang lebih senang menyebut masyarakat Madani. Dari sini pula, menurut Nurkholis Madjid kebudayaan Islam bermula.

Warisan kepemimpinan Rasulullah selanjutnya dipegang oleh Abu Bakar Asyyidiq. Beliau adalah orang yang ma’iyyah (sangat dekat) dengan Rasulullah. Khulafaur Rasyidin pertama pemegang tampuk pemerintahan. Wajar bila jiwa kepemimpinannya mirip dengan Rasulullah. Karena semasa hidupnya, waktunya lebih banyak Bersama Rasulullah.

Umar bin Khattab muncul menggantikan Abu Bakar. Ketegasan dalam memimpin tidak diragukan lagi. Adil dalam menangani kasus. Dekat dengan rakyat. Jatah waktu Umar pun berakhir, datang pemimpin yang baru, Utsman bin Affan. Periode ini sudah mulai muncul riak perpecahan. Masing-masing suku kembali menunjukkan siungnya. Masing-masing golongan mulai mengkalim kedekatannya dengan Rasulullah, sehingga merasa paling berhak untuk menjadi kepala negara. Utsman sendiri, saat diangkat menjadi khalifah sudah berumur tujuh puluhan tahunan.

Inilah gejolak yang timbul saat dipegang Ali bin Abi Thalib. Siapa teman, siapa musuh semakin jelas. Siapa yang berambisi untuk duduk di singgasana makin terlihat gamblang. Perpecahan tak terelakkan lagi. Serpihan-serpihan kepemimpinan menjadi sejarah manusia. Umat yang menanggung beban, dan tak berkesudahan.

Perang shiffin tampaknya menjadi awal mula perpecahan umat Islam. Peristiwa pembunuhan Utsman, membuat Ali bin Abi Thalib terpojok. Satu pihak, Ali harus meneruskan kekhalifahan menggantikan Utsman, disisi lain, ada sekelompok yang berambisi meraih kekhalifahan dengan menebar fitnah. Mereka bermain di dua kaki. Dalam siatuasi yang tidak menentu, lahirlah kelompok Khawarij.

Khawarij.

Khawarij berasal dari kata kharaja yang berarti keluar, muncul, timbul atau memberontak. Mengandung arti memberontak karena mereka memberontak terhadap imam yang sah. Kelompok ini memandang bahwa yang benar Ali, karena beliau adalah khalifah yang sah. Sebaliknya Muawiyah berada pada pihak yang salah karena memberontak khalifah. Secara kalkulasi, pasukan Ali hampir menang. Akan tetapi Ali menerima tipu daya yang licik dari Muawiyah, sehingga kemenangan yang tianggal diraih menjadi musnah.

Apa saja doktrin-dokrin khawarij? (bersambung……)

Bahan bacaan : Ilmu Kalam karya Prof. Dr. Abdul Razak, M.Ag dan Prof. Dr. Rosihon Anwar, M. Ag.