Antara Cita dan Realita

Jum’at Berkah

“Dan berkatalah Rasul: Ya Tuhanku. Kaumku ini sesungguhnya telah meninggalkan jauh al Qur’an”. (al Furqaan : 30).

Pernahkan pembaca menghitung kekecewaan dalam waktu sehari. Antara cita dan realita sering tidak memiliki korelasi. Kerap tidak nyambung. Keinginan yang selalu ditunggu tak muncul jua. Atau pada akhirnya tak pernah sesuai harapan. Pada akhirnya gundah gulana yang tak berujung. Ia merasa bahwa dirinya tidak berguna. Tidak ada yang mau bersimpati.

Orang yang mengalami kesedihan, dalam ikhtiar meraih keinginan adalah sesuatu yang wajar. Fitrah yang ada pada setiap manusia. Karena manusia memiliki hati, memiliki harapan, dan nafsu untuk mendapatkan sesuatu. Animonya cukup tinggi untuk meraih kesuksesan, tetapi hanya kegagalan yang didapatkan, pernah juga di alami oleh Rasulullah Muhammad SAW, yaitu tatkala beliau mengeluh terhadap umatnya yang tidak mau mengikuti ajarannya.

Curahan hati Rasulullah terpatri dalam terjemahan al Qur’an di atas. Kata akhir dalam ayat tersebut adalah mahjuran. Kata ini berasal dari kata jahara – yahjuru – hajran/hijran artinya meninggalkan atau tidak terpakai. Terjemah bebasnya adalah laksana suatu tempat yang telah lama ditinggalkan dan tidak diperdulikan lagi. Rasulullah gundah karena kaum Quraisy yang sangat diharapkan hendak menerima kebenaran al Qur’an. Namun yang diperoleh hanya cibiran. Lebih memilukan lagi adalah perlawanan.

Allah tidak akan biarkan berlama-lama manusia pilihan ini merasakan ganjalan di hati. Ayat berikutnya (al Furqaan: 31) sebagai jawaban, bahwa setiap Nabi pasti punya musuh. Namun Allah sendiri yang meneguhkan hati Nabi. Allah sendiri pula yang langsung memberi petunjuk, bagaimana cara menghadapi musuhnya.

Bila kita kaji ayat perihal kekesalan seorang Rasulullah, maka ada dua hal yang dapat dipetik manfaatnya. Pertama, ini membuktikan bahwa Rasulullah Muhammad SAW lebih mencintai kaumnya. Rasul merasa kasihan kepada mereka yang belum terbuka hatinya, akan mendapatkan siksa yang pedih. Di akhir hayatnya menjelang ajal, kata yang terucap dari bibir beliau “umatku… umatku… Betapa besar perhatian kepada umatnya.

Kedua, kesabaran. Yang diperjuangkan adalah kebenaran. Dan kebenaran itu adalah salah satu sifat Tuhan. Panas, betapapun teriknya, hingga bumi menjadi lekang. Hujan, betapapun lebatnya, hingga bumi menjadi lumpur semuanya, namun kebenaran tidak akan dipengaruhi kemarau ataupun lumpur. Setiap engkau berjumpa dengan ujian, karena hatimu tak pernah lepas dari mengingat Allah (dzikir), tuntunan Tuhan pasti datang tepat pada waktunya dan pertolongan akan tiba pada saat yang sangat penting.